UMKM tidak lagi cukup hanya mampu membuat produk yang baik. Di era digital, produk harus mampu ditemukan, dikenal, dipercaya, dan akhirnya dipilih oleh konsumen.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan “Kamis Manis” PLUT Pusat Layanan Usaha Terpadu KUMKM Sulawesi Selatan yang digelar di Celebes Convention Centre (CCC), Makassar, dalam sebuah workshop kewirausahaan bertema “PLUT Hebat, UMKM Naik Kelas.”
Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang bertemu bagi pelaku UMKM untuk memperkuat jiwa kewirausahaan, meningkatkan kemampuan digital, membangun branding, serta memperluas akses pasar.
PLUT KUMKM Sulsel dalam kegiatan ini juga menjalin MoU dengan DPW UKM IKM Nusantara, yang dipimpin Gerhanita Syam, SE, MM, CPL.
Menurut Gerhanita, tantangan UMKM saat ini bukan hanya bagaimana menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana menjual dan membangun pasar.
“Sekarang kita semua terkoneksi. Ada e-commerce seperti Shopee, Facebook, marketplace, dan berbagai platform digital lainnya. Semua ini membuat proses pemasaran menjadi lebih efektif dan efisien,” ujarnya.
Namun, menurutnya, UMKM tidak boleh berhenti pada aktivitas jual-beli semata.
Jualan Online Bukan Sekadar Transaksi
Salah satu materi utama disampaikan Wiwik Amaluddin, S.Ikom, Konsultan Digital PLUT KUMKM Sulsel, dengan tema “Digital Branding: Kunci Omzet Melejit.”
Ia menjelaskan perbedaan antara sekadar berjualan online dengan membangun digital branding.
Jualan online cenderung berorientasi pada transaksi. Persaingan akhirnya mudah terjebak dalam perang harga. Konsumen bisa berpindah ketika menemukan harga yang lebih murah.
Sementara branding membangun sesuatu yang lebih panjang: rasa percaya, nilai, identitas, dan loyalitas pelanggan.
“Produk yang memiliki branding tidak hanya dijual karena harganya, tetapi karena memiliki cerita dan nilai,” menjadi salah satu pesan penting dalam materi tersebut.
Karena itu, UMKM dituntut tidak hanya jago jualan, tetapi juga jago bercerita, jago membangun identitas, dan mampu membuat produknya memiliki market.
Tujuannya sederhana tetapi besar: branding lokal yang mampu mendunia.
Menemukan Bakat dan Berani Mengakses Modal
Materi kewirausahaan juga disampaikan Muh. Saleh, M.Si, dosen AMKOP, yang memperkenalkan bukunya berjudul “Menemukan Bakat dan Akses Modal.”
Menurutnya, seorang wirausahawan membutuhkan lebih dari sekadar modal finansial.
Dibutuhkan percaya diri, keberanian mengambil risiko, kemampuan kepemimpinan, serta orientasi pada masa depan.
Sebab modal terbesar seorang entrepreneur sering kali bukan berada di rekening, melainkan berada di dalam dirinya sendiri: keberanian untuk memulai dan kemampuan untuk terus belajar.
Konsep 6P PLUT KUMKM
Dalam kesempatan tersebut, Gerhanita Syam juga memperkenalkan konsep 6P PLUT KUMKM, yaitu:
1. Pelatihan
2. Pembinaan
3. Permodalan
4. Pendampingan
5. Promosi
6. Penjualan
Enam hal tersebut menjadi rangkaian penting agar UMKM tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi mampu tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan.
UMKM naik kelas bukan hanya ketika produknya laku, tetapi ketika usahanya memiliki sistem, branding, pasar, dan kemampuan untuk bertumbuh.
Dari Workshop UMKM ke Realitas Krisis Energi
Menariknya, setelah mengikuti kegiatan tersebut, saya mengalami sendiri sebuah realitas lain di lapangan.
Ketika hendak mengisi BBM, antrean kendaraan mengular dan membutuhkan waktu berjam-jam.
Bagi saya, ini menjadi pengalaman yang cukup mengagetkan. Selama tinggal di Indonesia, baru kali ini saya merasakan antrean BBM sedemikian panjang.
Di Makassar, persoalannya tidak hanya menyangkut BBM. Kelangkaan gas elpiji dan pemadaman listrik bergilir juga menjadi tantangan yang dirasakan masyarakat.
Persoalan energi pada akhirnya bukan hanya persoalan energi.
Ia dapat menjadi persoalan psikologis masyarakat, biaya produksi, biaya transportasi, biaya logistik, distribusi, hingga harga kebutuhan pokok.
Ketika biaya logistik meningkat, maka efeknya dapat merambat ke banyak sektor ekonomi.
UMKM yang sedang berjuang naik kelas pun bisa kembali menghadapi tekanan baru: biaya operasional meningkat sementara daya beli masyarakat berpotensi tertekan.
Karena itu, penguatan UMKM dan ketahanan energi sesungguhnya memiliki hubungan yang sangat erat.
UMKM Harus Naik Kelas, Ekonomi Harus Tetap Bergerak
Sebagai Ketua Bidang Hubungan Internasional APINDO Sulsel sekaligus pelaku usaha di bidang logistik, saya melihat UMKM memiliki posisi strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Kita perlu semakin banyak produk lokal yang tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga mampu menembus pasar ekspor.
UMKM harus naik kelas.
Bukan hanya naik omzet, tetapi juga naik kualitas, naik kapasitas produksi, naik standar, naik branding, dan akhirnya naik pasar.
Di sisi lain, dunia usaha juga membutuhkan ekosistem energi dan logistik yang sehat agar roda ekonomi dapat terus berputar.
Karena pada akhirnya, produk boleh dibuat di rumah, dipasarkan melalui handphone, tetapi tetap membutuhkan energi dan logistik untuk sampai ke tangan konsumen.
Di situlah pentingnya sinergi antara pemerintah, PLUT KUMKM, organisasi usaha, dunia pendidikan, pelaku UMKM, dan dunia usaha.
UMKM adalah denyut ekonomi rakyat.
Energi adalah napasnya.
Digital adalah jalannya menuju pasar dunia.
Semoga dari Makassar semakin banyak lahir UMKM hebat, produk lokal yang mendunia, dan pengusaha yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi ikut menghidupkan ekonomi dan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik.
Penulis:
Asrul Sani Abu
Ketua Bidang Hubungan Internasional APINDO Sulsel
Pengusaha | Penulis | Entrepreneur







