TANGSELXPRESS – Gubernur Banten Andra Soni memperpanjang masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) di Provinsi Banten hingga Jumat (11/9/2026).
Kebijakan tersebut diambil karena kualitas udara akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau dinilai belum aman untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka.
Keputusan itu ditetapkan setelah Andra memimpin rapat koordinasi dan pemantauan kondisi Gunung Anak Krakatau di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Selasa (8/9/2026).
Rapat tersebut dihadiri sejumlah pejabat terkait, di antaranya Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran M. Nugraha Kartadinata, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten M. Lutfi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten Wawan Gunawan.
Hadir pula Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten Agus Supriyadi, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Provinsi Banten Beni Ismail, Plt. Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten Endad Haryanto, serta Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Rahmat Tamam.
Andra mengatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memang mengalami penurunan. Namun, masyarakat tetap diminta mengikuti rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Erupsi hari ini memang sudah menurun. Namun, berdasarkan rekomendasi PVMBG, masyarakat dilarang mendekati lokasi dalam radius 3 kilometer dan diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” kata Andra.
Kasus ISPA Melonjak
Selain kualitas udara, pemerintah juga mempertimbangkan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan abu vulkanik.
Andra menyebutkan, jumlah kasus ISPA yang dalam kondisi normal berada di kisaran 2.000 kasus kini meningkat hingga sekitar 4.500 kasus berdasarkan laporan di lapangan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk memperpanjang PJJ guna mengurangi risiko paparan abu vulkanik terhadap siswa.
“Ini menjadi perhatian kita karena kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Pemprov Banten juga memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan. Gunung tersebut masih berstatus Siaga (Level III) sejak 2 Juli 2026.
“Kami terus melakukan pemantauan. Sampai saat ini, gunung masih mengeluarkan abu hitam yang pergerakannya bergeser ke arah samudra. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada,” kata Andra.
Erupsi Masih Bertipe Strombolian
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran M. Nugraha Kartadinata mengatakan, aktivitas erupsi hingga kini masih bertipe strombolian.
Erupsi jenis tersebut berpotensi melontarkan material vulkanik hingga lebih dari dua kilometer dari kawah.
“Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer. Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya,” tegas Nugraha.
Setelah rapat koordinasi, Andra kemudian meninjau kondisi SMKN 1 Cinangka, Kabupaten Serang.
Di lokasi tersebut, petugas terlihat melakukan pembersihan debu vulkanik yang menempel di sejumlah area sekolah. Pembersihan dilakukan dengan teknik pembasahan untuk mengurangi debu agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.







