KEBIASAAN membakar sampah secara mandiri kembali membawa dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan warga. Selama tiga hari berturut-turut, kawasan Pisangan diselimuti kabut asap tebal akibat kebakaran tumpukan sampah dan puing bangunan yang meluas di lahan kosong pemukiman warga.
Peristiwa ini bermula dari aksi pembakaran sampah rumah tangga secara mandiri yang tidak diawasi dengan baik. Api dengan cepat merembet ke tumpukan limbah kayu, plastik, dan puing bangunan yang tertimbun di sekitarnya. Angin kencang serta cuaca terik memperparah kondisi, membuat kobaran api meluas dan membakar material kering di area tersebut.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Tangerang Selatan menerjunkan sejumlah personel beserta armada mobil pemadam untuk menjinakkan si jago merah. Petugas pemadam kebakaran berpakaian lengkap tampak berjibaku menyemprotkan air ke titik-titik asap yang masih membara di antara tumpukan puing.
“Penanganan membutuhkan waktu hingga tiga hari karena titik api berada di bawah tumpukan puing-puing material dan sampah plastik yang tebal. Kami harus membongkar tumpukan secara perlahan agar air bisa menembus hingga ke dasar,” ujar salah satu petugas Damkar di lokasi kejadian.
Dampak dari kebakaran ini dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Kepulan asap pekat tidak hanya mengganggu pandangan pengendara dan warga yang beraktivitas, tetapi juga memicu keluhan kesehatan seperti sesak napas dan iritasi mata, terutama pada anak-anak dan lansia.
Pemerintah daerah setempat dan pihak Damkar mengimbau masyarakat untuk menghentikan praktik pembakaran sampah secara mandiri. Selain membahayakan keselamatan dan memicu kebakaran lahan, aktivitas tersebut merusak kualitas udara serta melanggar regulasi pengelolaan sampah yang berlaku. Warga diminta untuk memanfaatkan fasilitas pengangkutan sampah resmi demi mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Penulis:
Endang Dwiyanto







