TANGSELXPRESS – Migrain merupakan gangguan neurologis yang jauh lebih kompleks dibandingkan sakit kepala biasa. Kondisi ini dapat berlangsung selama empat hingga 72 jam, bahkan hingga tiga hari, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Selama serangan terjadi, penderita umumnya menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, suara, dan gerakan.
Mengutip The Guardian, pemahaman ilmiah mengenai migrain mengalami perkembangan pesat dalam satu dekade terakhir. Para peneliti kini semakin memahami mekanisme yang terjadi di otak sekaligus mengembangkan terapi yang dirancang khusus untuk menghambat pemicu munculnya rasa sakit.
Migrain dikategorikan sebagai sakit kepala primer, yaitu nyeri kepala yang bukan disebabkan oleh penyakit lain maupun kelainan struktural pada otak, seperti stroke, meningitis, tumor, atau perdarahan.
Profesor Neurologi dari University of Birmingham, Alexandra Sinclair, menjelaskan bahwa migrain umumnya ditandai dengan nyeri sedang hingga berat. Penderitanya cenderung ingin berbaring di tempat yang tenang, menghindari cahaya dan suara, tidak banyak bergerak, mengalami mual, serta merasakan nyeri berdenyut yang sering kali hanya menyerang satu sisi kepala.
Migrain berkaitan erat dengan aktivasi sistem trigeminovaskular, yakni jaringan saraf dan pembuluh darah yang berfungsi mendeteksi rasa sakit di otak. Komponen utama sistem ini adalah saraf trigeminal, saraf sensorik terbesar di kepala yang mengatur sensasi sentuhan, rasa sakit, suhu, hingga gerakan saat mengunyah.
Ketika sistem tersebut mengalami gangguan, serabut saraf akan melepaskan zat kimia bernama calcitonin gene-related peptide (CGRP). Molekul ini kemudian mengaktifkan jalur nyeri di otak dan memicu terjadinya serangan migrain.
Secara umum, migrain berkembang melalui empat tahapan, yaitu prodrome, aura, fase serangan utama, dan postdrome.
Tahap prodrome dapat muncul sekitar 24 jam sebelum sakit kepala dimulai. Pada fase ini, penderita biasanya lebih sering menguap, buang air kecil, merasa lelah, hingga muncul keinginan mengonsumsi makanan tertentu.
Selama ini, keinginan menyantap cokelat atau keju kerap dianggap sebagai penyebab migrain. Namun, hasil penelitian menggunakan pencitraan otak menunjukkan bahwa dorongan tersebut justru merupakan bagian dari proses serangan yang telah dimulai.
“Bukan Anda yang menyebabkan migrain. Migrainlah yang menyebabkan keinginan makan tersebut,” kata Sinclair.
Sekitar 30 persen penderita migrain mengalami fase aura. Gejala yang muncul dapat berupa gangguan penglihatan, mati rasa pada wajah, lengan, atau kaki, hingga kesulitan berbicara.
Fase serangan utama biasanya berlangsung selama empat hingga 72 jam. Setelah nyeri berangsur mereda, penderita dapat memasuki tahap postdrome yang ditandai dengan rasa lemas dan kelelahan hingga dua hari.
Laporan The Guardian juga menyebutkan bahwa perubahan hormon, faktor genetik, gaya hidup, serta kondisi lingkungan turut memengaruhi risiko seseorang mengalami migrain. Jumlah perempuan yang mengalami gangguan ini diperkirakan sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Perbedaan tersebut diduga berkaitan dengan pengaruh hormon dan tingkat sensitivitas otak terhadap zat kimia pemicu rasa sakit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan migrain sebagai salah satu dari 10 penyakit paling melumpuhkan di dunia. Gangguan ini paling banyak dialami oleh kelompok usia produktif, terutama sejak masa pubertas hingga menopause.
“Bagi sebagian orang, kemampuan berfungsi dengan baik terganggu hampir sepanjang bulan,” ujar Sinclair.
Menurutnya, stigma yang masih melekat membuat migrain sering kali dianggap sebagai keluhan yang tidak serius. Akibatnya, banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan yang tepat.
Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko serangan migrain, di antaranya kurang tidur, tidur berlebihan, menghentikan konsumsi kafein secara tiba-tiba, dehidrasi, hingga stres berat.
Sementara itu, kaitan antara penggunaan layar ponsel atau komputer dengan migrain masih belum dapat dipastikan. Meski penderita migrain umumnya sensitif terhadap cahaya, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan layar secara langsung menjadi penyebab serangan.
Perkembangan terapi migrain semakin pesat setelah para ilmuwan menemukan peran CGRP dalam memicu rasa sakit. Salah satu terapi terbaru adalah gepant, obat berbentuk tablet yang bekerja dengan menghambat reseptor CGRP.
Selain itu, tersedia pula terapi menggunakan antibodi monoklonal CGRP yang umumnya diberikan melalui suntikan setiap bulan.
Menurut Sinclair, kedua metode pengobatan tersebut telah membawa perubahan besar dalam penanganan migrain selama empat hingga lima tahun terakhir. Meski demikian, biaya pengobatan yang masih tinggi membuat akses terhadap terapi ini belum mudah bagi semua pasien.
Sinclair menegaskan bahwa penanganan migrain yang tepat sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang, termasuk kemampuannya untuk tetap bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari.







