TANGERANG SELATAN – Bagi banyak orang, secangkir kopi menjadi pilihan utama untuk memulai aktivitas atau mengusir rasa kantuk. Namun, tak sedikit pula yang merasa lebih sering buang air kecil setelah mengonsumsi minuman berkafein tersebut.
Lantas, benarkah kopi dapat membuat seseorang menjadi beser sekaligus meningkatkan risiko dehidrasi? Menurut dokter, kopi memang dapat memengaruhi frekuensi buang air kecil karena kandungan kafein di dalamnya.
Kafein memiliki sifat diuretik, yaitu merangsang tubuh menghasilkan urine dalam jumlah lebih banyak. Kandungan ini tidak hanya terdapat pada kopi, tetapi juga pada teh hijau (green tea), matcha, cokelat, hingga berbagai produk olahan berbahan kakao.
“Kopi secara umum mengandung kafein. Tapi bukan hanya kopi, green tea, teh matcha, dan cokelat juga mengandung kafein. Kandungan kafein ini sifatnya diuretik, sehingga membuat seseorang menghasilkan urine lebih banyak. Kalau dikonsumsi dalam jumlah banyak, produksi urine akan meningkat sehingga seseorang menjadi lebih sering berkemih,”
Demikian kata dr. Fina Widia, Sp.U., Subsp. F.F.N(K), Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Fungsional dan Neurologi Konsultan dalam acara peluncuran Siloam Hospital Asri Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic di Jakarta, Senin, 29 Juni.
Selain meningkatkan produksi urine, dr. Fina menjelaskan bahwa kafein juga dapat mengiritasi kandung kemih pada sebagian orang. Kondisi tersebut membuat kandung kemih menjadi lebih sensitif sehingga muncul keinginan untuk buang air kecil meski volume urine belum maksimal.
“Kopi juga dapat mengiritasi kandung kemih. Karena produksi urine meningkat, kandung kemih menjadi lebih sensitif sehingga terasa lebih cepat ingin buang air kecil,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti pecinta kopi harus menghentikan kebiasaan mengonsumsinya. Menurut dr. Fina, yang terpenting adalah mengetahui batas konsumsi yang sesuai dengan kemampuan tubuh masing-masing.
“Keluhan ini umumnya berkaitan dengan konsumsi kopi yang berlebihan. Karena itu pasien disarankan menemukan keseimbangannya, sebab risiko tersebut memang tidak bisa dihindari sepenuhnya,” katanya.
Sebagai alternatif, sebagian orang memilih kopi decaffeinated atau kopi rendah kafein. Pilihan ini memang dapat membantu mengurangi efek diuretik sekaligus menekan iritasi pada kandung kemih. Namun, efeknya dalam mengusir kantuk tidak sekuat kopi berkafein.
“Decaffeinated memang bisa berpengaruh, tetapi efeknya untuk mencegah kantuk tentu menjadi tidak seefektif kopi berkafein,” jelas dr. Fina.
Tak sedikit orang yang khawatir sering buang air kecil setelah minum kopi dapat menyebabkan dehidrasi. Padahal, pada individu dengan fungsi ginjal yang sehat, tubuh memiliki mekanisme alami untuk menjaga keseimbangan cairan.
“Badan kita diciptakan sedemikian rupa sehingga bisa mengatur keseimbangan cairan tubuh. Dalam kondisi sehat, tubuh sangat canggih. Kalau kelebihan cairan dan fungsi ginjal baik, tubuh akan membuang kelebihannya. Sebaliknya, ketika kekurangan cairan, ginjal akan mempertahankan cairan di dalam tubuh seoptimal mungkin,” paparnya.
Artinya, konsumsi kopi dalam jumlah wajar umumnya tidak akan langsung menyebabkan dehidrasi pada orang yang sehat. Hal yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi, terutama jika mengonsumsi beberapa cangkir kopi setiap hari.
Tips Minum Kopi agar Tidak Mengiritasi Kandung Kemih
Bagi pencinta kopi yang sering mengalami keluhan beser, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risikonya:
- Batasi konsumsi kopi sesuai toleransi tubuh dan hindari minum secara berlebihan.
- Imbangi setiap cangkir kopi dengan mengonsumsi air putih yang cukup.
- Hindari mengonsumsi kopi berdekatan dengan minuman berkafein lainnya, seperti teh atau minuman energi.
- Jika memiliki kandung kemih yang sensitif, pertimbangkan memilih kopi decaffeinated.
- Segera periksakan diri ke dokter apabila keluhan sering buang air kecil disertai nyeri, anyang-anyangan, atau muncul darah pada urine untuk memastikan tidak ada gangguan pada saluran kemih.
“Menikmati kopi tetap aman bagi kebanyakan orang selama dikonsumsi secara bijak. Mengenali batas toleransi tubuh menjadi kunci agar manfaat kopi tetap bisa dirasakan tanpa mengganggu kesehatan saluran kemih,” pungkasnya.







