DALAM teori keuangan tradisional, investor diasumsikan selalu bertindak rasional dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia secara objektif. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa perilaku investor sering kali tidak sepenuhnya rasional. Keputusan investasi tidak hanya dipengaruhi oleh data dan analisis keuangan, tetapi juga oleh emosi, persepsi, pengalaman masa lalu, serta berbagai bias psikologis.
Fenomena inilah yang menjadi dasar lahirnya Behavioral Finance. Disiplin ilmu ini berpendapat bahwa pasar tidak selalu efisien karena investor sering melakukan kesalahan dalam mengolah informasi. Bias seperti overconfidence (terlalu percaya diri), herd behavior (perilaku ikut-ikutan), confirmation bias (hanya mencari informasi yang mendukung keyakinan sendiri), dan loss aversion (lebih takut rugi daripada mengharapkan keuntungan) dapat menyebabkan harga aset menyimpang dari nilai fundamentalnya.
Ketidaksempurnaan perilaku investor tersebut kemudian memunculkan berbagai fenomena yang sulit dijelaskan oleh teori pasar efisien, seperti anomali pasar dan euforia investasi. Anomali pasar menunjukkan adanya pola-pola tertentu yang memungkinkan terjadinya keuntungan abnormal, sementara euforia pasar menggambarkan kondisi ketika optimisme investor meningkat secara berlebihan hingga mengabaikan risiko yang ada.
Jenis-Jenis Anomali Pasar
Anomali Musiman (Seasonal Anomalies)
Pola harga saham atau return yang terjadi pada waktu tertentu dalam kalender. Contoh dari anomali musiman:
- January Effect: Fenomena di mana harga saham cenderung naik lebih tinggi pada bulan Januari. Hal ini sering terjadi karena investor melakukan tax-loss selling (menjual saham rugi di akhir tahun untuk mengurangi pajak) dan membeli kembali di awal tahun.
- Day of the Week Effect: Return saham pada hari senin sering kali lebih rendah dibandingkan hari lainnya.
- Anomali Perusahaan (Firm Anomalies)
Anomali ini menunjukkan bahwa saham perusahaan kecil sering menghasilkan return yang lebih tinggi dibandingkan saham perusahaan besar. Contoh dari anomali perusahaan adalah saat saham perusahaan kecil di sektor teknologi dapat mengalami kenaikan harga yang lebih besar dibandingkan perusahaan besar karena memiliki potensi pertumbuhan yang lebih tinggi.
- Anomali Peristiwa (Event Anomalies)
Kondisi ketika harga saham mengalami perubahan yang tidak biasa akibat suatu peristiwa atau informasi tertentu yang diumumkan kepada publik. Contoh anomali peristiwa adalah merger dan akuisisi di mana Perusahaan A mengumumkan akuisisi perusahaan B untuk memperluas pasar, sehingga harga saham A mengalami kenaikan.
- Anomali Akuntansi (Accounting Anomaly)
Kondisi ketika informasi yang berasal dari laporan keuangan perusahaan dapat digunakan untuk memperoleh return abnormal karena pasar belum sepenuhnya atau belum secara cepat menginterpretasikan informasi akuntansi tersebut. Contoh anomali akuntansi adalah saat investor membeli saham perusahaan dengan PER rendah karena dianggap undervalued, lalu memperoleh keuntungan ketika harga saham naik.
Di antara berbagai anomali yang ada, di mana anomali adalah bukti bahwa pasar tidak selalu rasional, maka euphoria pasar adalah bukti bahwa investor pun demikian. Euphoria pasar terbentuk dan mendorong perilaku irasional investor, karena fenomena ini membangun kondisi di mana investor sangat optimis terhadap aset investasinya melampaui nilai fundamental aset itu sendiri. Euphoria terbentuk mulai dari sinyal positif kecil seperti kenaikan harga dan portofolio aset, berita bagus terkait investasinya, hingga tren baru. Hal ini dapat membuat investor yang tadinya ragu mulai ikut-ikutan tanpa menganalisis lebih dalam, hanya karena banyak investor yang mengamini fenomena tersebut.
Euphoria pasar ini didorong oleh bias psikologis investor. Misalnya, investor merasa mereka tahu lebih dari pasar, hanya karena merasa analisisnya benar. Keyakinan ini semakin menguat oleh tren harga yang naik terus belakangan ini dan diasumsikan akan terus naik.
Herd Behavior, tekanan sosial, FOMO, dan konformitas mendorong investor membeli/menjual secara massal, mendorong harga jauh dari nilai intrinsiknya. Ketika investor berbondong-bondong ke satu kelas aset, gelembung harga yang menyimpang dari fundamental pun terbentuk.
Mendeteksi euphoria pasar sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan, asalkan investor mau jujur pada diri sendiri. Salah satu tanda paling awal adalah ketika suatu aset mulai ramai diperbincangkan dalam percakapan sehari-hari orang awam hingga kerabat yang tidak pernah berinvestasi pun tiba-tiba ikut membahas saham atau kripto tertentu.
- Kembali ke Fundamental. Tanyakan satu pertanyaan sederhana: apakah harga saat ini masih mencerminkan nilai riil aset tersebut? Jika tidak, maka yang tengah terjadi adalah permainan sentimen, bukan investasi sejati. Disiplin terhadap analisis fundamental menjadi pagar pertama dari godaan euphoria.
- Tetapkan Strategi Keluar Sebelum Masuk. Tentukan sejak awal di harga berapa akan mengambil keuntungan dan di harga berapa akan menerima kerugian, lalu patuhi rencana tersebut. Salah satu jebakan terbesar euphoria adalah kebiasaan menggeser target karena harga terus naik hingga akhirnya terjebak di puncak.
- Lawan Naluri Ikut-Ikutan (Herd Behavior ) Secara Sadar. Ketika euforia terasa menular dan semua orang serentak membeli, justru itulah saat yang tepat untuk memperlambat langkah dan berpikir kritis. Warren Buffett pernah mengingatkan, “Be fearful when others are greedy” sebuah prinsip yang bukan sekadar klise, melainkan mekanisme pertahanan nyata terhadap psikologi kawanan.
- Jaga Diversifikasi dan Batasi Modal yang Dipertaruhkan. Euphoria kerap mendorong orang berinvestasi dengan uang pinjaman atau dana darurat karena takut tertinggal momentum. Ketika gelembung akhirnya pecah, kerugian yang ditanggung bukan sekadar keuntungan yang hilang melainkan modal yang sejak awal tidak seharusnya dipertaruhkan.
Anomali pasar dan euphoria membuktikan bahwa keputusan keuangan tidak pernah sepenuhnya lepas dari psikologi manusia. Bagi investor, ini berarti disiplin struktural jauh lebih penting dari sekadar kepintaran analisis aturan investasi yang jelas, batasan eksposur, dan keberanian melawan narasi kerumunan adalah pertahanan nyata terhadap bias yang bekerja diam-diam. Bagi regulator dan pembuat kebijakan, ini adalah pengingat bahwa desain pasar yang baik harus memperhitungkan keterbatasan perilaku manusia, bukan hanya asumsi rasionalitas yang ideal.
Pada akhirnya, Behavioral Finance mengajarkan sesuatu yang sederhana namun sering diabaikan. Pasar adalah cerminan dari jutaan keputusan manusia yang tidak sempurna. Memahami ketidaksempurnaan itu bukan alasan untuk pesimis terhadap investasi, melainkan fondasi untuk mengambil keputusan yang lebih sadar dan lebih tahan terhadap gejolak baik di level individu maupun sistem keuangan secara keseluruhan. Pertanyaannya bukan lagi apakah bias itu ada, melainkan seberapa jauh kita mau jujur mengakuinya sebelum pasar yang memaksa kita melakukannya.
Penulis:
Tiara Azzahra Aproditha
Sabrina Septiani
Eki Ramdani Sopyana
Ni Wayan Julia Sanistira Kayla Anjani
Hania Bunga Syabina
Jessica Amalia
Dosen Pengampu: Kartika Sari Dewi, S.E., M.M.







