DALAM perkembangan dunia bisnis dan pemasaran saat ini, sensitivitas atau elastisitas produk menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh pelaku usaha maupun akademisi. Elastisitas produk menggambarkan tingkat perubahan permintaan konsumen akibat adanya perubahan harga, pendapatan, serta berbagai faktor eksternal lainnya.
Kondisi pasar yang semakin kompetitif dan perubahan pola konsumsi masyarakat yang berlangsung cepat membuat pemahaman mengenai elastisitas menjadi hal yang sangat penting dalam penyusunan strategi bisnis.
Secara umum, elastisitas permintaan dalam ilmu ekonomi digunakan untuk mengetahui seberapa besar respons konsumen terhadap perubahan harga suatu barang atau jasa. Produk dikatakan elastis apabila kenaikan harga dalam jumlah kecil mampu menyebabkan penurunan permintaan yang cukup besar. Sebaliknya, produk dikategorikan inelastis apabila perubahan harga tidak terlalu memengaruhi jumlah permintaan konsumen. Pemahaman terhadap konsep ini membantu perusahaan dalam mengenali karakteristik pasar sekaligus perilaku konsumen secara lebih mendalam.
Kajian mengenai elastisitas produk kini semakin banyak dilakukan di berbagai bidang usaha, seperti UMKM, industri fashion, transportasi berbasis digital, hingga platform e-commerce. Penelitian pada sektor UMKM di Medan memperlihatkan bahwa sebagian besar produk UMKM memiliki tingkat elastisitas permintaan yang tinggi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen cukup peka terhadap perubahan harga, sehingga kenaikan harga dalam jumlah tertentu dapat memengaruhi keputusan pembelian. Situasi ini membuat para pelaku UMKM harus mampu menetapkan strategi harga dan promosi secara tepat serta menjaga kualitas produk agar tetap kompetitif di pasaran. ([E-Jurnal Kampus Akademik][1])
Tidak hanya harga, tingkat pendapatan masyarakat juga memiliki pengaruh terhadap elastisitas suatu produk. Barang kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan bahan pangan lainnya umumnya bersifat inelastis karena tetap dibutuhkan masyarakat meskipun harga mengalami peningkatan. Sementara itu, barang sekunder dan tersier cenderung memiliki tingkat elastisitas lebih tinggi karena konsumen dapat mengurangi pembelian atau beralih ke produk lain yang dianggap lebih terjangkau.
Penerapan konsep elastisitas juga tampak pada industri fashion muslim di Kota Mataram. Berdasarkan hasil penelitian, konsumen produk fashion muslim menunjukkan tingkat sensitivitas yang cukup tinggi terhadap perubahan harga. Ketika harga produk meningkat, jumlah permintaan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sebaliknya, penurunan harga maupun adanya program promosi mampu meningkatkan permintaan konsumen secara tajam. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa strategi harga dan promosi sangat berpengaruh terhadap tingkat pembelian konsumen di sektor fashion muslim. ([Jurnal UTS][2])
Perkembangan teknologi digital turut memperlihatkan pentingnya elastisitas produk dalam aktivitas perdagangan elektronik dan layanan berbasis aplikasi. Penelitian terkait marketplace Shopee mengungkapkan bahwa kenaikan ongkos kirim memiliki pengaruh langsung terhadap minat beli masyarakat. Sebelum melakukan transaksi, konsumen cenderung memperhitungkan total biaya yang harus dikeluarkan, termasuk biaya pengiriman. Oleh sebab itu, berbagai program seperti gratis ongkir, cashback, dan potongan biaya pengiriman masih menjadi strategi utama marketplace dalam menarik sekaligus mempertahankan pelanggan. ([Jurnal Areai][3])
Pada sektor transportasi online, penelitian mengenai layanan ojek digital di DKI Jakarta menunjukkan bahwa elastisitas permintaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain tarif perjalanan, kenyamanan layanan, efisiensi waktu, dan kemudahan penggunaan aplikasi. Ketika tarif perjalanan mengalami kenaikan yang terlalu tinggi, sebagian konsumen memilih alternatif transportasi lain dengan biaya yang lebih murah. Namun demikian, apabila layanan yang diberikan dinilai nyaman dan efisien, konsumen masih bersedia menggunakan jasa tersebut meskipun terjadi kenaikan tarif dalam batas tertentu. ([Jurnal Universitas Pahlawan][4])
Menurut para akademisi dan praktisi ekonomi, pemahaman terhadap elastisitas produk memiliki peranan besar dalam membantu perusahaan menyusun strategi pemasaran, menentukan kebijakan harga, dan mengembangkan produk sesuai kebutuhan pasar. Dengan mengetahui tingkat sensitivitas konsumen, perusahaan dapat mengambil keputusan bisnis secara lebih efektif, efisien, dan mampu meningkatkan daya saing usaha di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Selain bermanfaat bagi perusahaan, konsep elastisitas juga penting dalam penyusunan kebijakan ekonomi pemerintah, khususnya dalam pengendalian inflasi dan stabilitas harga. Analisis elastisitas membantu pemerintah memahami respons masyarakat terhadap perubahan harga barang kebutuhan pokok maupun barang konsumsi lainnya. Melalui pemahaman tersebut, pemerintah dapat merancang kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran guna menjaga kestabilan ekonomi serta mempertahankan daya beli masyarakat. ([Jurnal Unipasby][5])
Penelitian lain turut menjelaskan bahwa inflasi dan tingkat daya beli masyarakat memiliki hubungan yang erat terhadap perubahan elastisitas permintaan produk, terutama pada sektor UMKM. Ketika inflasi meningkat dan kemampuan masyarakat dalam membeli produk menurun, konsumen menjadi lebih berhati-hati dalam menentukan pembelian. Keadaan ini mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian strategi harga, meningkatkan inovasi produk, serta memperbaiki kualitas layanan agar tetap mampu mempertahankan konsumen di tengah tekanan ekonomi yang terus berubah.
Secara keseluruhan, sensitivitas atau elastisitas produk merupakan unsur penting dalam memahami dinamika pasar modern. Pelaku usaha dituntut untuk mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi digital, dan kondisi ekonomi yang terus berubah. Penetapan harga yang tepat, strategi promosi yang efektif, inovasi produk, serta kemampuan membaca kebutuhan konsumen menjadi faktor utama agar suatu produk tetap diminati dan mampu bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin kompleks.
Daftar Pustaka
Suwardi, D., & Cita, F. P. (2024). Analisis elastisitas permintaan produk fashion muslim Riamiranda di Kota Mataram. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 9(2), 24–27. https://doi.org/10.37673/jebi.v9i2.5391
Sitompul, F., Khairia, F. M., Tobing, J. M. L., & Matondang, K. A. (2025). Analisis elastisitas permintaan, elastisitas silang, dan elastisitas pendapatan pada UMKM Medan. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, 3(1). https://doi.org/10.61722/jiem.v3i1.3359
Zed, E. Z., Aprilia, D., Trifadilah, D. A., & Putri, A. Y. (2025). Dampak kenaikan ongkos kirim terhadap elastisitas permintaan produk di marketplace studi kasus: Shopee. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, 3(3), 130–139. https://doi.org/10.61132/jepi.v3i3.1585
Fitriyani, R. Y., Kustiawati, D., Fanhati, I. A., Ramadhan, Y. A., & Chanifah, L. (2022). Analisis faktor pengaruh elastisitas permintaan jasa ojek online DKI Jakarta. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 4(6), 6254–6261. https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i6.9286
Agil, A. M., Firdaus, A., & Buhaerah. (2024). Analisis elastisitas permintaan dan penawaran dalam ekonomi modern. Buana Matematika: Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika, 14(1). https://doi.org/10.36456/buanamatematika.v14i1.8517
Handayani, L., & Syam, S. (2025). Pengaruh inflasi dan daya beli terhadap perubahan harga, elastisitas permintaan, dan perilaku konsumsi: Studi pada UMKM di Kota Balikpapan. Jurnal GeoEkonomi, 16(2). https://doi.org/10.36277/geoekonomi.v16i2.622
Penulis:
Kelompok 6 Ekonomi Manajerial :
- Muhamad Alit (231010501199)
- Siti Rahayu Lestari (231010500884)
- Amelia Gista Putri Mulyasari (231010505239)
- Zulfi Bagus Krisdianto (231010503910)
Dosen Pengampu Hasanudin S.E., M.M.
Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis







