TANGERANG SELATAN– Putus cinta merupakan pengalaman yang hampir pernah dialami setiap orang. Setelah hubungan berakhir, proses move on menjadi fase yang harus dilewati untuk kembali menjalani kehidupan seperti biasa.
Sebagian orang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk melupakan mantan pasangan. Namun, ada pula yang terlihat mampu bangkit hanya dalam hitungan hari. Kondisi ini kemudian memunculkan anggapan bahwa pria cenderung lebih cepat move on dibandingkan wanita.
Lalu, benarkah laki-laki lebih cepat melupakan masa lalunya setelah putus cinta?
Belum Ada Bukti Pria Selalu Lebih Cepat Move On
Hingga saat ini belum ada penelitian yang benar-benar dapat memastikan bahwa pria selalu lebih cepat move on dibandingkan wanita. Proses penyembuhan setelah putus cinta sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti lamanya hubungan, penyebab perpisahan, tingkat keseriusan hubungan, hingga kesiapan seseorang untuk menerima kenyataan.
Artinya, seorang pria bisa saja membutuhkan waktu lebih lama untuk melupakan mantan dibandingkan wanita, begitu pula sebaliknya.
Mengapa Pria Terlihat Lebih Cepat Bangkit?
Anggapan bahwa pria lebih cepat move on kemungkinan muncul karena cara mereka mengekspresikan emosi yang berbeda.
Menurut berbagai kajian psikologi, banyak pria tumbuh dengan stereotipe bahwa mereka harus terlihat kuat, tangguh, dan tidak mudah menunjukkan kesedihan. Akibatnya, mereka cenderung menyimpan perasaan sedih setelah putus cinta dan memilih mengalihkan perhatian pada aktivitas lain.
Tidak sedikit pria yang langsung fokus pada pekerjaan, hobi, olahraga, atau kegiatan yang sebelumnya jarang dilakukan saat masih menjalin hubungan. Dari luar, kondisi ini membuat mereka tampak lebih cepat melupakan masa lalu.
Padahal, belum tentu mereka benar-benar sudah berdamai dengan perasaan yang dimiliki.
Wanita Cenderung Lebih Terbuka Mengekspresikan Emosi
Di sisi lain, wanita umumnya lebih terbuka dalam menunjukkan emosi ketika mengalami kesedihan akibat putus cinta. Mereka lebih mudah bercerita kepada teman, keluarga, atau orang terdekat mengenai perasaan yang sedang dialami.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan hormonal dapat memengaruhi kondisi emosional wanita pada waktu-waktu tertentu. Meski demikian, faktor hormon bukanlah penyebab utama yang menentukan cepat atau lambatnya seseorang move on.
Yang lebih berpengaruh adalah bagaimana seseorang menghadapi, menerima, dan mengelola emosinya setelah hubungan berakhir.
Menyembunyikan Emosi Bisa Membuat Proses Move On Lebih Lama
Psikolog menilai bahwa menyimpan kesedihan tanpa mengolahnya dengan baik justru berpotensi memperpanjang proses pemulihan emosional.
Seorang pria yang memilih memendam rasa sedih mungkin terlihat baik-baik saja pada awal perpisahan. Namun, ketika bertemu dengan hal-hal yang mengingatkannya pada mantan, perasaan sedih atau kecewa bisa kembali muncul dengan lebih kuat.
Sebaliknya, seseorang yang sejak awal berani mengakui dan mengekspresikan kesedihannya cenderung lebih mudah menerima keadaan dan melanjutkan hidup.
Move On Adalah Proses yang Bersifat Personal
Pada akhirnya, tidak ada aturan pasti mengenai siapa yang lebih cepat move on setelah putus cinta. Baik pria maupun wanita memiliki cara masing-masing dalam menghadapi kehilangan dan memulihkan diri dari luka emosional.
Karena itu, cepat atau lambatnya seseorang move on tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh kondisi pribadi, pengalaman hubungan, dukungan sosial, serta kemampuan dalam mengelola emosi yang dimiliki.







