JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah menyiapkan penyesuaian tarif untuk sejumlah layanan Transjabodetabek. Kebijakan ini tidak hanya menyasar rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta, tetapi juga beberapa koridor lain yang dinilai memiliki tingkat subsidi cukup tinggi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan keputusan terkait tarif Transjabodetabek rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta akan segera ditetapkan dalam waktu dekat.
“Untuk tarif Transjabodetabek Blok M-Bandara, segera akan kami putuskan,” kata Pramono di Matraman, Jakarta Timur, dikutip Jumat, 5 Juni.
Menurut Pramono, evaluasi tarif juga dilakukan terhadap sejumlah rute Transjabodetabek lainnya. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga keberlanjutan layanan sekaligus mengendalikan besarnya subsidi yang harus ditanggung pemerintah daerah.
“Pada bulan-bulan ini kita akan memutuskan beberapa rute, bukan hanya Blok M ke Soekarno-Hatta, tetapi juga Trans Jabodetabek lainnya yang perlu penyesuaian karena memang subsidinya terlalu besar,” ujarnya.
Meski demikian, Pemprov DKI belum merinci koridor mana saja yang akan mengalami penyesuaian tarif maupun besaran tarif baru yang sedang dibahas. Waktu penerapan kebijakan tersebut juga masih menunggu keputusan resmi.
Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan pemerintah daerah mengalokasikan subsidi sebesar Rp401 miliar untuk mendukung operasional 18 rute Transjabodetabek. Rata-rata subsidi yang diberikan mencapai Rp12.258 untuk setiap penumpang.
Di sisi lain, jumlah pengguna layanan Transjabodetabek terus menunjukkan peningkatan sepanjang 2026. Koridor D21 Universitas Indonesia–Lebak Bulus masih menjadi rute dengan jumlah pelanggan terbanyak pada April 2026.
Berdasarkan data PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), rute tersebut melayani 315.768 pelanggan pada April 2026, meningkat signifikan dibandingkan Maret 2026 yang mencatat 245.867 pelanggan.
Pertumbuhan jumlah pengguna juga terlihat pada sejumlah koridor yang menghubungkan wilayah penyangga dengan pusat aktivitas di Jakarta. Rute P11 Bogor–Blok M, misalnya, mencatat kenaikan dari 211.634 pelanggan pada Maret menjadi 249.580 pelanggan pada April 2026.
Sementara itu, koridor T11 Poris Plawad–Petamburan membukukan 244.143 pelanggan dan menjadi salah satu rute dengan tingkat penggunaan tertinggi selama periode tersebut.
Tingginya jumlah pengguna pada rute-rute dari kawasan Bodetabek menunjukkan mobilitas masyarakat menuju Jakarta masih sangat tinggi, terutama untuk kebutuhan bekerja dan aktivitas sehari-hari. Koridor yang terintegrasi dengan jaringan MRT Jakarta maupun halte transit utama juga mengalami peningkatan jumlah pelanggan.
Rute S21 Ciputat–CSW tercatat melayani 231.978 pelanggan pada April 2026, meningkat dari 183.494 pelanggan pada bulan sebelumnya. Adapun rute S22 Ciputat–Kampung Rambutan mengalami lonjakan dari 122.596 menjadi 179.894 pelanggan.
Kenaikan serupa terjadi pada koridor D11 Depok–Cawang Sentral via Cibubur. Jumlah pengguna pada April 2026 mencapai 134.672 pelanggan, lebih tinggi dibandingkan Maret yang tercatat 109.953 pelanggan.
Di wilayah Bekasi, rute B21 Bekasi Timur–Cawang melayani 117.071 pelanggan selama April 2026. Sementara itu, koridor B41 Vida Bekasi–Cawang Sentral via Jatiasih mencatat 109.765 pelanggan.
Rute T31 PIK 2–Blok M juga menunjukkan tren positif dengan jumlah pelanggan mencapai 126.869 orang pada April 2026, naik dari 120.407 pelanggan pada bulan sebelumnya.
Peningkatan jumlah pengguna Transjabodetabek dinilai sejalan dengan tren penggunaan transportasi umum yang terus tumbuh di kawasan Jabodetabek. Integrasi antarmoda, kepastian waktu perjalanan, serta semakin luasnya jaringan layanan menjadi faktor yang mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Meski mayoritas koridor mengalami pertumbuhan pengguna, rute B25 Bekasi–Dukuh Atas masih menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terendah pada April 2026, yakni 44.511 orang. Sementara itu, rute SH2 Blok M–Bandara Soekarno-Hatta mencatat 45.113 pelanggan selama periode yang sama.







