MAHASISWA Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang (UNPAM) kembali melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian. Berbeda dari kegiatan PKM sebelumnya yang banyak menyasar lingkungan sekolah, kali ini sasaran kegiatan adalah anak-anak panti asuhan yang masih berada pada usia perkembangan.
Kelompok ini dinilai penting untuk mendapatkan pembekalan literasi keuangan sejak dini, mengingat masa kanak-kanak merupakan waktu paling tepat untuk menanamkan kebiasaan baik, termasuk dalam hal mengelola uang. Tim PKM ingin memperkenalkan konsep menabung, mengatur kebutuhan, serta berbagi melalui pendekatan yang ringan dan menyenangkan, agar anak-anak tidak melihat topik keuangan sebagai sesuatu yang rumit, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Kegiatan PKM ini dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2026 di Panti Asuhan Aksi Nyata Pancoran, Jakarta Selatan, dengan tema “Membangun Kecerdasan Finansial Untuk Masa Depan yang Lebih Aman.” Tim pelaksana kegiatan diketuai oleh Julia Handayani, dengan anggota pelaksana Alya Kamal dan Harmalia.

Peserta yang menjadi sasaran kegiatan adalah anak-anak panti asuhan yang berusia antara 7 hingga 13 tahun, dengan jumlah yang cukup ramai sehingga suasana sesi terasa hidup dan penuh energi. Tema kecerdasan finansial dipilih karena tim melihat bahwa edukasi keuangan untuk anak-anak masih jarang menjadi prioritas, padahal kebiasaan sederhana seperti menabung dan membedakan kebutuhan dengan keinginan justru paling mudah dibentuk pada rentang usia ini.
Materi pada kegiatan ini disampaikan dengan bahasa yang ringan dan disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak. Tim mengajak peserta mengenal apa itu uang, dari mana uang berasal, serta bagaimana uang sebaiknya digunakan.
Dalam penyampaian materi, tim PKM juga menekankan pentingnya sikap disiplin dan tanggung jawab dalam menggunakan uang. Anak-anak diberikan pemahaman bahwa uang yang dimiliki sebaiknya tidak langsung dihabiskan untuk membeli hal-hal yang kurang penting. Tim menjelaskan bahwa menabung bukan berarti tidak boleh jajan atau membeli sesuatu yang disukai, melainkan belajar mengatur agar uang tetap bisa digunakan dengan bijak. Penjelasan seperti ini membuat anak-anak lebih mudah memahami bahwa mengelola keuangan sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari
Tidak hanya itu, tim juga memberikan motivasi kepada peserta agar memiliki cita-cita dan tujuan keuangan sejak kecil. Anak-anak diajak membayangkan barang atau impian yang ingin mereka capai melalui hasil menabung sendiri. Dengan cara tersebut, anak-anak menjadi lebih semangat dan memahami bahwa menabung memiliki manfaat nyata untuk masa depan mereka. Beberapa peserta bahkan terlihat antusias ketika menceritakan keinginan mereka membeli perlengkapan sekolah, perlengkapan ibadah, hingga menabung untuk mewujudkan cita-cita mereka di masa depan.
Pembahasan kemudian berlanjut ke topik yang lebih praktis, yaitu cara menabung, pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta bagaimana merencanakan pengeluaran sederhana. Contoh-contoh yang diberikan pun sengaja dibuat dekat dengan keseharian mereka, mulai dari uang saku, jajan, hingga keinginan untuk membeli mainan atau buku tertentu. Tujuannya agar anak-anak dapat dengan mudah mengaitkan materi yang disampaikan dengan pengalaman mereka sendiri.
Selain pemaparan materi, tim juga menyiapkan berbagai aktivitas interaktif agar pelatihan terasa lebih menyenangkan. Anak-anak diajak bermain kuis berhadiah, serta mengikuti simulasi pembagian uang menggunakan tiga kantong: menabung, kebutuhan, dan berbagi. Tim turut membagikan celengan kecil sebagai media untuk memulai kebiasaan menabung dari rumah masing-masing. Pendekatan seperti ini dipilih karena anak-anak cenderung lebih cepat memahami konsep keuangan ketika mereka mempraktikkannya langsung, bukan hanya mendengarkan penjelasan. Suasana pun terasa hangat, banyak tawa, dan tidak terkesan seperti pelajaran yang berat.
Antusiasme anak-anak terlihat sejak awal kegiatan dimulai. Banyak dari mereka yang aktif bertanya, bercerita tentang uang saku yang biasa diterima, hingga menyebut ingin pergi ke Mekkah dari hasil tabungan sendiri. Pengurus Panti Asuhan Aksi Nyata Pancoran juga menyampaikan apresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Menurut beliau, materi seputar pengelolaan keuangan jarang disampaikan secara khusus kepada anak-anak, sehingga kehadiran tim PKM dirasa sangat membantu sebagai pelengkap pembinaan karakter sehari-hari di panti.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, tim berharap kebiasaan baik dalam mengelola uang dapat mulai tumbuh pada anak-anak panti, sekecil apa pun bentuknya. Tim juga berharap kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama yang lebih panjang antara mahasiswa dengan panti asuhan, baik dalam bentuk pendampingan menabung secara rutin, pelatihan kewirausahaan sederhana, maupun kegiatan edukasi lain yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dukungan dari pihak kampus, panti, serta masyarakat sekitar sangat dibutuhkan agar program seperti ini dapat terus berjalan dan dirasakan oleh lebih banyak anak di tempat lain.
Artikel ini disusun sebagai dokumentasi kegiatan sekaligus bahan informasi bagi masyarakat umum, khususnya bagi lembaga sosial dan panti asuhan, mengenai pentingnya pengenalan literasi keuangan sejak usia dini. Melalui langkah kecil ini, tim PKM berharap dapat ikut berkontribusi membentuk generasi yang lebih siap, mandiri, dan bijak dalam mengambil keputusan finansial di masa depan.
Penulis:
Julia Handayani
Alya Kamal
Harmalia
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang Prodi Manajemen







