BERJALAN-jalan di sekitar kawasan Tangerang Selatan (Tangsel) saat sore hingga malam hari, kita akan disuguhi pemandangan menjamurnya pelaku usaha baru. Mulai dari kafe estetik tempat berkumpulnya anak muda di Pamulang, food truck kekinian di BSD, hingga deretan tenda kuliner kreatif di kawasan Ciputat.
Pertumbuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Anggrek ini memang patut diacungi jempol. Namun, di balik riuhnya pembeli pada minggu-minggu pertama pembukaan toko, tersimpan sebuah realitas pahit: tidak sedikit dari usaha tersebut yang gulung tikar sebelum genap beroperasi satu tahun.
Banyak pelaku usaha yang terjebak pada pola pikir “yang penting viral dulu”. Padahal, dalam dunia bisnis yang kompetitif, viral hanyalah pemantik awal. Agar bisnis bisa bernapas panjang dan terus mencetak profit, instrumen yang dibutuhkan adalah penguatan di sektor Manajemen Strategis.
Jebakan “Asal Laku” dan Pentingnya Analisis Pasar
Dalam ilmu manajemen bisnis, ada kesalahan klasik yang sering dilakukan oleh pengusaha pemula, yaitu melompati tahapan perencanaan strategis dan langsung meloncat ke tahap eksekusi penjualan. Prinsipnya sering kali sederhana: lihat produk apa yang sedang tren di media sosial, tiru, lalu jual dengan harga sedikit lebih murah. Strategi ini sekilas tampak masuk akal, namun sebenarnya sangat rapuh.
Ketika kompetitor lain melakukan hal yang persis sama, terjadilah apa yang disebut dengan red ocean—sebuah kondisi pasar yang berdarah-darah karena perang harga. Di sinilah fungsi manajemen strategis masuk. Sebelum menggelar lapak, seorang pelaku usaha harus melakukan analisis lingkungan, baik internal maupun eksternal. Strategi paling mendasar seperti analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) bukan sekadar teori teks kuliah, melainkan alat navigasi nyata untuk melihat apakah produk yang dijual benar-benar memiliki daya tahan atau hanya sekadar tren musiman.
Menerapkan “Porter’s Generic Strategies” di Level Lokal
Untuk memenangkan persaingan di Tangsel yang super padat ini, pelaku UMKM tidak bisa lagi bergerak tanpa arah. Mengadaptasi teori manajemen klasik dari Michael Porter, setidaknya ada dua strategi utama yang bisa dipilih oleh pelaku usaha lokal agar bisa menonjol di pasaran:
- Keunggulan Biaya (Cost Leadership): Strategi ini berfokus pada efisiensi biaya operasional yang luar biasa tinggi, sehingga bisa menjual produk berkualitas standar dengan harga yang sangat miring. Namun, strategi ini biasanya membutuhkan modal besar untuk produksi massal.
- Diferensiasi (Differentiation): Jika tidak bisa bersaing di harga, maka buatlah produk yang unik dan tidak memiliki kembaran. Inilah yang paling cocok untuk UMKM Tangsel. Unik bisa berarti dari segi rasa, konsep kemasan, pelayanan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pemesanan.
Ketika sebuah kedai kopi atau warung makan memiliki diferensiasi yang kuat, mereka tidak akan goyah meskipun di kanan-kirinya berdiri kompetitor baru dengan produk sejenis. Pembaca atau konsumen di Tangsel dikenal cukup kritis dan adaptif terhadap hal-hal baru; mereka tidak keberatan membayar lebih jika nilai (value) yang ditawarkan sebanding.
Digitalisasi Bukan Sekadar Punya Akun Media Sosial
Satu lagi aspek manajemen strategis yang sering salah kaprah adalah pemaknaan tentang digitalisasi. Banyak pelaku UMKM merasa sudah “go digital” hanya karena memiliki akun Instagram atau TikTok. Padahal, manajemen operasional berbasis digital jauh lebih dalam dari itu.
Digitalisasi yang strategis melibatkan pengelolaan data harian. Bagaimana mencatat arus kas secara digital agar tidak bercampur dengan uang dapur, bagaimana membaca algoritma promosi lokal agar tepat sasaran ke warga Tangsel, hingga bagaimana mengelola ulasan digital (online reviews) pelanggan sebagai bahan evaluasi produk. Manajemen yang berbasis data membuat keputusan bisnis tidak lagi diambil berdasarkan “firasat” atau tebak-tebakan, melainkan berdasarkan fakta riil di lapangan.
Napas Panjang Bisnis Ada pada Tata Kelola
Pada akhirnya, kreativitas warga Tangsel dalam menciptakan produk kuliner maupun jasa kreatif memang luar biasa. Namun, kreativitas tanpa diimbangi oleh tata kelola manajemen yang rapi hanya akan menghasilkan bisnis yang berumur jagung. Bisnis yang sukses bukan bisnis yang hanya mampu mendatangkan antrean panjang di hari pertama, melainkan bisnis yang sistem operasionalnya tetap berjalan sehat bahkan ketika pemiliknya sedang tidak ada di tempat.
Sudah saatnya para pelaku UMKM di Tangerang Selatan naik kelas. Bukan lagi sekadar menjadi pedagang yang mengejar omzet harian, melainkan bertransformasi menjadi pebisnis tangguh yang memiliki visi strategis jangka panjang. Sebab, di tengah kota yang terus berkembang pesat ini, hanya mereka yang memiliki strategi matang yang akan tetap berdiri tegak menguasai pasar.
Penulis:
Ditari Nur’Aeni







