TANGERANG SELATAN – Daging kurban selalu menjadi salah satu hal yang paling dinantikan saat Hari Raya Iduladha tiba. Setelah proses penyembelihan dan pembagian selesai, banyak keluarga langsung mengolahnya menjadi berbagai menu favorit seperti sate, gulai, rendang, hingga tongseng.
Namun di balik proses memasaknya, muncul pertanyaan yang hampir selalu dibahas setiap tahun, yakni apakah daging kurban perlu dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak.
Selama ini, banyak orang meyakini mencuci daging mentah merupakan langkah wajib agar daging terlihat lebih bersih dan aman dikonsumsi. Air dianggap mampu membersihkan darah, sisa kotoran, hingga bakteri yang menempel di permukaan daging.
Padahal, sejumlah lembaga kesehatan dan keamanan pangan internasional justru menyarankan hal berbeda. Persoalan mencuci daging ternyata berkaitan langsung dengan keamanan pangan, kualitas daging, hingga cara penanganannya di dapur.
Daging Kurban Tidak Perlu Dicuci
Anggapan bahwa daging akan semakin bersih jika sering dicuci ternyata tidak sepenuhnya benar secara ilmiah.
Sejumlah penelitian menunjukkan pencucian daging mentah tidak efektif untuk menghilangkan bakteri yang menempel di permukaannya. Beberapa bakteri yang umum ditemukan pada daging mentah antara lain Salmonella, E coli, Campylobacter, hingga Listeria.
Bakteri tersebut tidak mudah hilang hanya dengan air mengalir karena sebagian dapat menempel cukup kuat pada permukaan daging. Cara paling efektif untuk membunuh bakteri justru melalui proses pemasakan dengan suhu yang memadai.
Secara umum, bakteri akan mati ketika daging mencapai suhu internal aman sekitar 70 derajat celsius atau lebih, tergantung jenis daging yang diolah. Karena itu, hal terpenting bukanlah mencuci daging berulang kali, melainkan memastikan daging matang sempurna saat dimasak.
Risiko Mencuci Daging Mentah
Kebiasaan mencuci daging mentah justru berpotensi menimbulkan risiko lebih besar, terutama terjadinya kontaminasi silang atau cross contamination.
Saat air mengenai permukaan daging mentah, percikan kecil dapat menyebar ke berbagai area dapur seperti wastafel, meja, talenan, pisau, hingga bahan makanan lain di sekitarnya.
Berdasarkan rekomendasi keamanan pangan dari United States Department of Agriculture, percikan air dari daging mentah dapat menyebar hingga sekitar 50–60 sentimeter dari area pencucian.
Kondisi tersebut memungkinkan bakteri berpindah tanpa disadari. Bahkan, sejumlah penelitian menyebut kontaminasi silang menjadi salah satu penyebab utama penyakit bawaan makanan di rumah tangga.
World Health Organization juga mencatat sekitar satu dari 10 orang di dunia mengalami penyakit akibat makanan terkontaminasi setiap tahunnya.
Akibat penanganan daging yang kurang tepat, risiko kesehatan yang dapat muncul meliputi mual, muntah, diare, infeksi saluran pencernaan, infeksi bakteri Salmonella atau Campylobacter, hingga komplikasi serius akibat bakteri E coli pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Kapan Daging Boleh Dicuci?
Meski tidak dianjurkan secara umum, bukan berarti daging sama sekali tidak boleh terkena air.
Dalam kondisi tertentu, pencucian tetap dapat dilakukan secara terbatas, misalnya jika terdapat pasir, serpihan tulang, sisa kotoran fisik, atau darah segar berlebih pada permukaan daging. Jika diperlukan, pencucian cukup dilakukan singkat menggunakan air mengalir.
Namun, daging sebaiknya tidak direndam terlalu lama karena dapat membuat air terserap ke jaringan daging. Hal tersebut berpotensi mengubah tekstur menjadi lebih keras, mengurangi cita rasa alami, hingga melarutkan sebagian nutrisi.
Setelah dibilas, daging dianjurkan segera ditiriskan atau dikeringkan menggunakan tisu dapur sekali pakai agar kelembapannya tidak berlebihan.
Cara Aman Menangani Daging Kurban
Daripada fokus pada proses pencucian, langkah yang jauh lebih penting adalah memastikan penanganan daging dilakukan secara higienis sejak awal.
Penggunaan pisau dan talenan khusus untuk daging mentah sangat dianjurkan agar tidak bercampur dengan alat untuk sayuran, buah, atau makanan siap santap.
Kebersihan tangan juga perlu diperhatikan. Sebelum dan sesudah memegang daging, tangan sebaiknya dicuci menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik untuk meminimalkan penyebaran bakteri.
Jika belum langsung diolah, daging perlu disimpan dalam wadah tertutup di lemari pendingin dengan suhu sekitar 4 derajat celsius. Untuk penyimpanan jangka panjang, freezer dengan suhu sekitar -18 derajat celsius menjadi pilihan yang dianjurkan agar kualitas daging tetap terjaga.
Selain itu, daging mentah sebaiknya tidak disimpan berdekatan dengan buah, sayuran, atau makanan matang guna mencegah kontaminasi silang.
Langkah terakhir yang paling penting adalah memastikan daging dimasak hingga matang sempurna karena proses pemanasan tetap menjadi cara paling efektif membunuh bakteri berbahaya.
Pada dasarnya, daging kurban tidak selalu perlu dicuci sebelum dimasak. Bahkan dalam banyak kondisi, kebiasaan tersebut justru dapat meningkatkan risiko penyebaran bakteri melalui percikan air dan kontaminasi silang.
Penanganan yang higienis, penyimpanan yang tepat, serta proses memasak hingga matang jauh lebih penting untuk menjaga keamanan pangan. Dengan pengolahan yang benar, daging kurban tetap bisa menjadi hidangan lezat dan aman dinikmati bersama keluarga saat Iduladha.







