TANGERANG SELATAN – Selain menjaga pola makan, kecukupan cairan tubuh juga memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan sistem pencernaan. Air berfungsi membantu berbagai proses dalam tubuh, mulai dari pembentukan air liur, penyerapan nutrisi, hingga memperlancar pergerakan makanan di saluran cerna.
Dr. Vipada menganjurkan untuk mengawali hari dengan meminum segelas air putih sebelum sarapan. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membantu mengaktifkan sistem pencernaan sekaligus memberi sinyal bagi tubuh untuk mulai beraktivitas.
Asupan cairan yang terjaga sepanjang hari juga dinilai membantu serat bekerja lebih optimal dalam melancarkan proses pencernaan. Di sisi lain, membatasi konsumsi cairan berlebihan pada malam hari dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks sebelum tidur.
Kesehatan pencernaan juga berkaitan erat dengan kualitas tidur. Saat tubuh beristirahat, usus ikut menjalani proses pemulihan serta penyesuaian ritme mikrobioma.
Karena itu, makanan berat, tinggi gula, tinggi lemak, dan minuman berkafein menjelang waktu tidur sebaiknya dihindari agar sistem pencernaan tidak bekerja terlalu berat pada malam hari.
“Membiasakan rutinitas tidur yang konsisten membantu tubuh dan bakteri usus bekerja mengikuti ritme yang lebih optimal,” ujar Dr. Vipada.
Ia turut menyarankan melakukan aktivitas ringan sebelum tidur, seperti peregangan, membaca buku, atau menikmati teh herbal agar tubuh lebih rileks.
Tak hanya pola makan dan tidur, stres juga disebut dapat memengaruhi keseimbangan usus serta jam biologis tubuh. Hormon stres atau kortisol diketahui berdampak pada sistem pencernaan dan dapat mengganggu ritme sirkadian.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, stres yang tidak terkontrol dapat membuat sistem pencernaan menjadi lebih sensitif sekaligus mengubah keseimbangan mikrobioma usus.
“Hubungan antara usus dan otak sangat kuat. Karena itu, menjaga keseimbangan hidup, kualitas tidur, serta pola makan yang baik menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh,” tutup Dr. Vipada.







