Catatan Harian ASA
APA yang Paling Utama dalam Hidup, yang justru Tak Terlihat oleh Mata?
Kapankah terakhir kali, kita tersenyum bahagia bisa menarik nafas dengan lega?
Kapankah kita terakhir bersyukur bahagia, bisa duduk dengan nyaman tanpa nyeri atau berjalan tanpa rasa sakit?.
Seringkali karena sibuknya dunia, kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar hidup. Kita bagaikan seonggok mesin yang diberi nyawa.
Kita sibuk bekerja, sibuk belajar, sibuk mengejar cita-cita, bahkan sibuk beribadah dan menghadiri berbagai undangan kehidupan.
Namun diam-diam, kesibukan itu membuat hati perlahan menjadi bising.
Kita memakai mata hanya untuk melihat tampilan luar manusia. Melihat gedung-gedung tinggi, melihat keramaian kota, melihat kendaraan berlalu-lalang, melihat barang baru yang memanjakan mata.
Tetapi kita lupa melihat maknanya.
Kita memakai telinga hanya untuk mendengar suara dunia. Suara rapat, suara kendaraan, suara percakapan sehari-hari, suara manusia yang saling berbicara tanpa benar-benar saling memahami.
Namun kita lupa mendengar suara hati sendiri.
Padahal seringkali, yang paling penting dalam hidup justru tidak terlihat mata dan tidak terdengar telinga.
Ilmu psikologi modern menjelaskan bahwa manusia sebenarnya mampu menangkap “frekuensi emosional” dari orang lain melalui ekspresi mikro, intonasi suara, gerak tubuh, pola tatapan, hingga energi emosional yang dipancarkan secara tidak sadar. Otak manusia memiliki sistem yang disebut mirror neuron, yaitu kemampuan saraf untuk membaca dan merasakan keadaan emosional orang lain meski tanpa banyak kata.
Karena itu terkadang kita bisa merasakan, ada orang yang tampak tersenyum namun hatinya lelah, ada orang yang terlihat sederhana tetapi auranya menenangkan, dan ada pula orang yang terlihat hebat namun batinnya penuh kegelisahan.
Mata batin bukan sekadar mistik sebagaimana dipahami sebagian orang.
Ia adalah kepekaan rasa, kepekaan jiwa, dan kejernihan hati dalam membaca kehidupan.
Seseorang tidak selalu terbaca dari pakaiannya, jabatannya, atau cara bicaranya.
Tetapi lebih sering terbaca dari frekuensi rasa yang dipancarkannya.
Dari tatapan matanya. Dari caranya memperlakukan orang kecil. Dari ketulusan diamnya. Dan dari energi yang hadir saat ia berada di dekat kita.
Kita juga jarang mengapresiasi kehidupan sehari-hari. Padahal setiap hari sesungguhnya adalah anugerah yang luar biasa.
Bangun tidur adalah keajaiban. Bisa bernapas lega adalah nikmat besar. Bisa duduk tanpa rasa sakit adalah karunia yang tidak ternilai.
Saya pernah merasakan bagaimana sulitnya duduk karena nyeri yang luar biasa. Saat itu saya memahami satu hal sederhana: kadang duduk tanpa rasa sakit saja sudah terasa seperti kemewahan hidup.
Kita sering menganggap biasa apa yang sebenarnya luar biasa.
Padahal di luar sana ada orang yang berjuang hanya untuk bernapas. Ada yang sulit berjalan. Ada yang ingin hidup lebih lama namun waktunya terbatas.
Sedangkan kita masih diberi pagi. Masih diberi kesempatan melihat langit. Masih diberi kesempatan memperbaiki diri dan berbagi kebaikan dan cinta kasih.
Tetapi semua itu sering lewat begitu saja tanpa makna.
Karena terlalu sibuk mengejar kehidupan, kita lupa menikmati kehidupan itu sendiri.
Padahal setiap hari adalah peristiwa besar. Setiap hari membawa hikmah.
Setiap hari membawa pelajaran yang sebenarnya mampu mendewasakan jiwa.
Hari ini bukan hari biasa. Ia mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya ia tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.
Dan sangat disayangkan bila semua itu hanya lewat menjadi rutinitas tanpa kesadaran.
Mungkin hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Tetapi siapa yang paling mampu memahami makna di setiap perjalanan.
Karena pada akhirnya, yang tinggal bukan hanya harta atau jabatan, melainkan hikmah, amal, dan jejak kebaikan yang terus hidup bahkan saat kita telah tiada.
Salam Hangat.
ASA | Asrulsani Abu, S.E., M.M.
Penulis Buku, Pengurus APINDO/ALFI SULSELBAR







