JAKARTA– Kasus dua asisten rumah tangga (ART) yang nekat melompat dari lantai empat sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir masih menyisakan tanda tanya.
Hingga kini, aparat kepolisian terus mendalami motif dan penyebab insiden tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi, termasuk agen penyalur pekerja rumah tangga yang telah diamankan.
Peristiwa ini menjadi perhatian publik karena terjadi di kawasan padat penduduk dan melibatkan pekerja yang diduga baru bekerja dalam waktu relatif singkat.
Seorang warga sekitar bernama Nani mengaku menjadi salah satu orang pertama yang menghampiri korban setelah kejadian. Ia menyebut salah satu korban berinisial R masih sempat berbicara meski dalam kondisi kesakitan.
“Saya sempat tanya ke korban R, dia bilang baru kerja sekitar tiga bulan. Kalau temannya, D, baru kerja satu minggu,” ujar Nani saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (25/4/2026), dikutip dari Beritasatu.com.
Menurut Nani, setelah memberikan keterangan singkat tersebut, korban tidak lagi banyak berbicara karena menahan rasa sakit akibat terjatuh dari ketinggian. Kondisi keduanya saat itu disebut sangat lemah dan membutuhkan penanganan medis segera.
Nani juga mengungkapkan, pemilik rumah kos yang diduga menjadi tempat para korban bekerja dikenal sebagai sosok tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga sekitar.
“Orangnya memang tertutup, jarang bergaul sama warga. Saya biasanya cuma lihat kalau dia berangkat kerja saja,” katanya.
Bangunan rumah kos tersebut diketahui telah berdiri sekitar enam tahun. Selama itu, warga sekitar mengaku tidak pernah mendengar adanya masalah mencolok dari dalam rumah tersebut.
Sementara itu, penyelidikan terus berlanjut. Penyidik dari Polres Metro Jakarta Pusat kini fokus mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak, mulai dari ketua RT hingga agen penyalur pekerja rumah tangga.
Agen penyalur ART yang diduga terkait dengan keberadaan kedua korban telah diamankan polisi pada Jumat (24/4/2026) malam di wilayah Brebes dan Cirebon. Langkah ini dilakukan untuk menelusuri kemungkinan adanya pelanggaran dalam proses penyaluran tenaga kerja, termasuk dugaan eksploitasi atau perlakuan tidak layak.
Hingga saat ini, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti insiden tersebut. Aparat masih mendalami berbagai kemungkinan, mulai dari faktor kekerasan, tekanan kerja, hingga persoalan lain yang mungkin dialami korban.







