JAKARTA – Jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci pada musim 1447 H/2026 M diimbau mempersiapkan segala kebutuhan dengan matang, termasuk menyimpan nomor darurat penting. Langkah ini menjadi krusial mengingat kondisi di lapangan yang dinamis, mulai dari risiko terpisah dari rombongan hingga kebutuhan bantuan medis mendesak.
Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia memastikan seluruh tahapan keberangkatan berjalan sesuai rencana. Menteri Haji dan Umrah, Moch Irfan Yusuf, menyebut layanan bagi jemaah telah dipersiapkan secara optimal.
“Seluruh tahapan operasional haji berjalan sesuai rencana. InsyaAllah, keberangkatan jemaah dimulai tepat waktu, dan seluruh layanan telah kami siapkan dengan optimal,” ujarnya dilansir dari http://beritasatu.com.
Berdasarkan jadwal, jemaah mulai masuk asrama haji pada 21 April 2026. Keberangkatan dilakukan bertahap mulai 22 April hingga 21 Mei 2026. Puncak ibadah haji diperkirakan berlangsung pada 25–26 Mei 2026 saat wukuf di Arafah, sementara pemulangan dijadwalkan mulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026.
Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai dukungan, mulai dari pengiriman petugas haji secara bertahap hingga penyediaan 16 embarkasi di seluruh Indonesia. Selain itu, layanan fast track di bandara seperti Bandara Soekarno-Hatta, Solo, Juanda, dan Makassar turut membantu mempercepat proses keimigrasian jemaah.
Di tengah persiapan tersebut, aspek keamanan menjadi perhatian utama. Setiap tahun, tidak sedikit jemaah yang mengalami kendala seperti tersesat, kehilangan barang, atau membutuhkan bantuan medis darurat di Makkah maupun Madinah.
Karena itu, menyimpan nomor darurat menjadi hal yang wajib dilakukan. Berikut daftar nomor penting di Arab Saudi:
- 999: Polisi
- 997: Ambulans/darurat medis
- 998: Pemadam kebakaran
- 911: Nomor darurat terpadu
Selain itu, jemaah juga dapat menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh melalui nomor:
- (+966) 11 4882800
- +966 569173990
Tak kalah penting, jemaah disarankan menyimpan nomor pribadi yang relevan seperti pembimbing ibadah (muthawwif), tour leader, hotel di Makkah dan Madinah, keluarga di Indonesia, serta rekan satu rombongan.
Dengan persiapan yang lengkap, termasuk akses nomor darurat, jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman, tenang, dan nyaman.







