JAKARTA – Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (21/4). Dalam persidangan tersebut, mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim tampak emosional hingga menitikkan air mata usai mengikuti rangkaian sidang.
Nadiem mengaku kelelahan menjalani proses hukum yang telah berlangsung cukup lama, terlebih dengan kondisi kesehatannya yang disebut tidak stabil.
“Saya hanya mau ini berakhir, saya sudah capek,” ujarnya dengan suara bergetar.
Sidang kali ini menghadirkan ahli pendidikan dan karier Ina Setiawati Liem serta tujuh saksi dari kalangan guru yang disebut menerima manfaat program digitalisasi pendidikan. Dukungan juga tampak datang dari keluarga, kerabat, hingga sejumlah pengemudi ojek daring yang hadir di ruang sidang.
Dalam keterangannya, Nadiem menilai ada ironi dalam perkara yang menjeratnya. Ia menyoroti penggunaan chrome device management (CDM) yang menurutnya justru bertujuan meningkatkan transparansi, namun dipersoalkan dalam dakwaan.
“CDM disebut total loss menjadi kerugian negara, padahal itu cara untuk memastikan transparansi agar tidak ada kebocoran anggaran,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengadaan Chromebook dilakukan dengan pertimbangan efisiensi, mulai dari harga perangkat yang lebih terjangkau hingga penggunaan perangkat lunak tanpa biaya tambahan.
“Ini paradoks, niatnya membersihkan unsur korupsi, malah dituduh korupsi,” lanjutnya.
Dalam kasus ini, jaksa penuntut umum mendakwa Nadiem terlibat dalam dugaan korupsi dengan nilai kerugian negara mencapai Rp2,1 triliun. Rinciannya meliputi dugaan kemahalan harga Chromebook sebesar Rp1,5 triliun serta pengadaan CDM senilai Rp621 miliar yang dianggap tidak diperlukan. Ia juga disebut menerima aliran dana sebesar Rp809,5 miliar.
Persidangan akan terus berlanjut pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi tambahan dan pembuktian lanjutan dari kedua pihak. Kasus ini menjadi perhatian publik karena berkaitan langsung dengan program digitalisasi pendidikan nasional bernilai besar.







