TANGERANG SELATAN– Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus meninjau pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) di Sekolah Khusus Negeri 01 Pondok Aren, Senin (20/4/2026). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kualitas layanan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Dalam peninjauan tersebut, Benjamin memberikan perhatian khusus pada jumlah porsi makanan yang diproduksi. Ia mengingatkan bahwa pembatasan porsi penting untuk mencegah potensi keracunan dalam distribusi makanan.
Benjamin juga menyaksikan langsung para siswa menikmati menu yang disediakan. Ia sempat berinteraksi dengan siswa untuk mengetahui kualitas makanan yang diberikan.
“Gimana masakannya enak?” tanya Benjamin kepada siswa.
“Enak,” jawab para siswa serempak, menunjukkan respons positif terhadap program tersebut.
Menurut Benjamin, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebaiknya membatasi jumlah produksi makanan. Ia menilai produksi dalam jumlah besar berisiko menurunkan kualitas.
“Kalau sampai 3.000 porsi berisiko, jadi harus dibatasi. Tidak boleh lebih guna mengantisipasi keracunan,” ujarnya.
Ia menyarankan jumlah ideal produksi berada di kisaran maksimal 1.000 porsi per unit. Dengan jumlah tersebut, pengawasan terhadap kualitas gizi dan kebersihan makanan dapat dilakukan lebih optimal.
Selain itu, Benjamin juga meninjau dapur milik Omah Kulina, salah satu mitra penyedia paket makanan bergizi gratis yang didukung pihak swasta. Dari hasil pemantauan, dapur tersebut rutin diperiksa oleh dinas terkait.
“Satu bulan sekali kami ditinjau Dinas Kesehatan, selama satu tahun belum ada kasus keracunan,” ujar pengelola.
Dalam kunjungan itu, Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan, Ronny Bona Tua Hutagalung, turut mendampingi. Ia mengapresiasi keterlibatan sektor swasta dalam mendukung program MBG.
Menurut Ronny, program ini bertujuan meningkatkan asupan gizi bagi anak sekolah, balita, serta ibu hamil sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045.
Ia berharap semakin banyak mitra swasta yang terlibat, sehingga program dapat berjalan berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
“Dukungan swasta membantu efisiensi rantai pasok, menjaga kualitas gizi, serta mendorong pemberdayaan usaha kecil dan inovasi teknologi pangan,” ujarnya.







