TEHERAN – Iran mengklaim meraih kemenangan diplomatik besar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Teheran menilai kesepakatan tersebut sebagai hasil penting yang menguntungkan posisi mereka di tengah ketegangan dengan Washington.
Mengutip laporan Hindustan Times, Rabu (8/4), Iran menyebut kesepakatan itu sebagai kemenangan bersejarah setelah Amerika Serikat menerima 10 poin proposal gencatan senjata yang diumumkan Trump pada Selasa (7/4) malam waktu setempat.
Salah satu poin utama dalam proposal tersebut adalah izin lintasan reguler melalui Selat Hormuz di bawah koordinasi Angkatan Bersenjata Iran. Menurut Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, ketentuan ini memberi negara tersebut posisi ekonomi dan geopolitik yang sangat strategis.
Dewan tersebut bahkan menyebut hasil negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran—yang dimediasi oleh Pakistan—sebagai kekalahan telak bagi Amerika Serikat dalam konflik yang mereka sebut tidak adil dan melanggar hukum terhadap Iran.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran menyatakan bahwa AS bersedia mencabut sanksi primer dan sekunder, mengakui program pengayaan nuklir Iran, serta menerima pengaturan terkait kendali dan jalur strategis di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan resminya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa proses negosiasi lanjutan akan berlangsung di Islamabad dengan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap pihak Amerika. Mereka juga menekankan pentingnya menjaga persatuan nasional selama masa dua minggu tersebut, sembari tetap memandang proses diplomasi ini sebagai kelanjutan dari perjuangan di lapangan.
Iran juga mengirimkan pesan tegas bahwa mereka siap merespons setiap pelanggaran. “Jika musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, respons akan diberikan dengan kekuatan penuh,” demikian pernyataan yang menegaskan sikap waspada sekaligus keras dari Teheran.







