JAKARTA – Duka mendalam menyelimuti keluarga Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon. Kepergiannya terasa semakin pilu karena ia diketahui telah memesan tiket untuk pulang ke Indonesia.
Praka Farizal yang tergabung dalam pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) sebenarnya dijadwalkan mengakhiri masa tugasnya pada April 2026 dan kembali ke Tanah Air pada Mei. Namun, rencana itu tak terwujud setelah ia gugur akibat serangan artileri di wilayah penugasan pada Minggu waktu setempat.
Kabar duka ini menjadi pukulan berat bagi keluarga di Padukuhan Ledok, Kelurahan Sidorejo, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia dikenal sebagai anak bungsu dari dua bersaudara yang berbakti kepada orang tua.
“Ia anak yang baik. Di mana pun bertugas, selalu memberi kabar kepada saya dan ayahnya. Hampir setiap malam kami melakukan panggilan video,” ujar ibundanya, Supinah, dikutip Selasa (31/3/2026).
Sejak menjadi prajurit pada 2016, Praka Farizal selalu menjaga komunikasi dengan keluarga, baik saat bertugas di dalam maupun luar negeri. Bahkan selama penugasan di Lebanon sejak April 2025, ia tetap rutin memberi kabar.
Namun, komunikasi itu mulai berkurang seiring memburuknya situasi konflik. Sang ibu mengungkapkan, putranya kerap harus berlindung di bunker setiap kali sirene bahaya berbunyi.
“Belakangan situasinya darurat. Ia sering masuk bunker saat sirene berbunyi,” katanya.
Rencananya, jenazah Praka Farizal akan dimakamkan di tempat pemakaman umum yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah orang tuanya, berdampingan dengan makam sang kakek.
Saat ini, Markas Besar TNI masih mengupayakan pemulangan jenazah ke Indonesia. Kepergian Praka Farizal menjadi pengingat akan besarnya risiko yang dihadapi para prajurit dalam menjalankan misi perdamaian dunia.
Di balik seragam dan tugas negara, tersimpan kisah pilu seorang anak yang hampir pulang—dengan tiket di tangan, namun tak pernah sempat kembali.







