JAKARTA– Fenomena post holiday blues kerap muncul setelah masa liburan berakhir, termasuk usai momen Lebaran Idulfitri. Kondisi ini merujuk pada perasaan sedih, hampa, atau menurunnya semangat saat seseorang kembali ke rutinitas harian.
Situasi tersebut banyak dialami masyarakat setelah mudik ke kampung halaman. Perpisahan dengan keluarga serta berakhirnya suasana hangat dan kebersamaan menjadi pemicu utama munculnya kondisi ini.
Perubahan dari suasana liburan yang santai ke aktivitas sehari-hari yang padat seringkali menimbulkan gejolak emosi. Sebagian orang merasakan kehilangan, hampa, hingga menurunnya motivasi kerja akibat ikatan emosional dengan keluarga dan lingkungan asal.
Dalam kajian psikologi, kondisi ini dikenal sebagai post holiday blues, yakni respons emosional akibat perubahan drastis dari masa liburan ke rutinitas normal.
Melansir Psikologi Universitas Indonesia, psikolog Dian Wisnuwardhani menjelaskan bahwa post holiday blues ditandai dengan sejumlah gejala, seperti perasaan sedih, kelelahan, kecemasan, hingga kesulitan berkonsentrasi saat kembali bekerja.
“Dampaknya pasti adalah merasa tidak nyaman. Ada juga kondisi yang membuat seseorang jadi malas ke kantor atau menunda pekerjaan,” ujar Dian dalam keterangannya, dikutip dari RRI.
Ia menambahkan, kembalinya rutinitas kerja yang padat turut memicu penurunan motivasi. Perbedaan suasana antara liburan dan aktivitas sehari-hari menciptakan apa yang disebut sebagai “kesenjangan emosional”.
Dari sisi kesehatan mental, kondisi ini umumnya bersifat sementara dan akan mereda dalam beberapa hari. Namun, jika berlangsung lebih lama dan mengganggu aktivitas, masyarakat perlu lebih waspada karena berpotensi berkembang menjadi gangguan psikologis.
Para ahli menyarankan agar masyarakat kembali beraktivitas secara bertahap setelah libur Lebaran. Menjaga pola hidup sehat, mengatur waktu istirahat, serta tetap terhubung dengan orang terdekat dapat membantu memulihkan suasana hati.







