INDIA – Seorang wanita berusia 50 tahun di India mengalami kejadian mengejutkan setelah sebelumnya dinyatakan mengalami mati otak. Wanita tersebut tiba-tiba sadar dan kembali bernapas usai ambulans yang membawanya menghantam lubang besar di jalan.
Peristiwa ini terjadi pada akhir Februari 2026, ketika Vineeta Shukla, seorang pegawai pengadilan di Pilibhit, Uttar Pradesh, mendadak pingsan di rumahnya. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menyimpulkan bahwa Vineeta mengalami mati otak. Ia hampir tidak menunjukkan respons, dengan tingkat kesadaran hanya 3 dari 15 berdasarkan skala Glasgow. Keluarga pun diberi tahu bahwa peluang hidupnya sangat kecil.
Dalam kondisi tersebut, keluarga memutuskan untuk membawa Vineeta pulang menggunakan ambulans untuk mempersiapkan pemakaman. Namun, di tengah perjalanan dari Pilibhit menuju Bareilly, ambulans yang mereka tumpangi menghantam lubang besar dengan keras.
Guncangan hebat itu justru memicu reaksi tak terduga. Vineeta tiba-tiba mulai bernapas kembali secara normal, dan detak jantungnya menjadi stabil. Suaminya, Kuldeep Shukla, menjadi orang pertama yang menyadari perubahan tersebut.
Melihat kondisi itu, keluarga segera membatalkan rencana pemakaman dan meminta sopir ambulans berbalik arah kembali ke rumah sakit. Vineeta kemudian dibawa ke Rumah Sakit Neurocity di Pilibhit untuk pemeriksaan lanjutan.
Di sana, dokter spesialis bedah saraf Rakesh Singh menemukan fakta penting. Ia mendapati adanya bekas gigitan pada kaki Vineeta yang diduga berasal dari ular atau serangga berbisa.
Racun neurotoksin yang masuk ke dalam tubuhnya diduga melumpuhkan sistem saraf, menyebabkan gejala seperti pupil melebar dan hilangnya respons. Kondisi ini sangat mirip dengan tanda-tanda mati otak sehingga berpotensi disalahartikan.
Menurut penjelasan dokter, guncangan keras dari ambulans yang menghantam lubang memberikan rangsangan fisik mendadak pada sistem saraf Vineeta yang sebelumnya tertekan. Rangsangan inilah yang diduga memicu tubuhnya kembali merespons.
Meski demikian, faktor utama yang menyelamatkan nyawanya adalah penanganan medis lanjutan. Vineeta kemudian mendapatkan serum antitoksin yang tepat setelah kembali ke rumah sakit.
Setelah menjalani perawatan intensif selama dua minggu, kondisinya berangsur pulih hingga akhirnya diperbolehkan pulang dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Kisah ini pun memicu kontroversi di tingkat lokal. Rumah sakit swasta di Bareilly yang pertama kali menangani Vineeta mendapat sorotan tajam karena dianggap terburu-buru dalam menyimpulkan diagnosis mati otak.







