TANGERANG SELATAN – Kesehatan jantung selama ini sering dikaitkan dengan pola makan, aktivitas fisik, dan kualitas istirahat. Namun, faktor lain yang tak kalah penting adalah kehidupan sosial seseorang.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Hubungan yang hangat dan bermakna dengan keluarga, sahabat, maupun lingkungan sekitar dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan emosional sekaligus fisik. Menjaga koneksi sosial yang baik diketahui mampu membantu menjaga kesehatan jantung.
Ketika seseorang memiliki hubungan yang kuat dan merasa mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya, tubuh cenderung lebih mampu menghadapi tekanan atau stres. Interaksi sosial juga dapat memicu pelepasan hormon yang menimbulkan rasa bahagia, seperti oksitosin dan serotonin.
Kedua hormon tersebut berperan menekan kadar kortisol, yaitu hormon stres utama dalam tubuh. Jika tingkat stres dapat dikendalikan dengan baik, kondisi ini turut membantu menjaga fungsi jantung tetap stabil.
Sebaliknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko penyakit jantung serta gangguan kesehatan lainnya. Kondisi ini dapat memicu stres kronis yang berdampak pada peningkatan tekanan darah, detak jantung yang lebih cepat, serta peradangan pada pembuluh darah.
“Dalam jangka panjang, perubahan tersebut dapat memicu aterosklerosis, yaitu kondisi ketika arteri mengeras dan menyempit sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke,” jelas Konsultan Senior Kardiologi di Rumah Sakit Spesialis Sahyadri, Dr. Priya Palimkar, seperti dikutip dari Healthshots.
Karena itu, menjaga kehidupan sosial yang sehat menjadi hal penting untuk mendukung kesehatan jantung. Hubungan sosial yang baik juga sering kali memengaruhi gaya hidup seseorang.
Orang yang memiliki dukungan sosial biasanya lebih termotivasi untuk menjalani gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan menerapkan pola makan seimbang. Kehadiran teman maupun keluarga sering kali menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kesehatan diri.
Sebagai contoh, teman dapat mengajak berolahraga secara teratur, sementara keluarga dapat mendorong kebiasaan makan yang lebih sehat. Kebiasaan kecil seperti ini, jika dilakukan secara konsisten, mampu membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.
“Dukungan emosional membantu tubuh mengatur respons terhadap stres. Saat seseorang merasa didukung, tekanan darah dan detak jantungnya cenderung lebih cepat kembali normal setelah mengalami situasi yang menegangkan,” tambahnya.
Perlu dipahami bahwa memiliki kehidupan sosial yang aktif tidak selalu berarti harus menghadiri acara besar atau berinteraksi dengan banyak orang. Dalam hal ini, kualitas hubungan jauh lebih penting dibandingkan jumlahnya.
Ada berbagai cara sederhana untuk tetap terhubung secara sosial, seperti menghubungi teman atau kerabat, berjalan santai bersama orang terdekat, menjadi sukarelawan, mengikuti kegiatan keagamaan, atau bergabung dalam komunitas sesuai hobi. Aktivitas tersebut dapat memperkuat rasa kebersamaan dan memberikan rasa aman serta nyaman dalam kehidupan sehari-hari.







