JAKARTA – Minggu (8/3/2026) di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, langit seolah ikut menunduk saat tanah perlahan menutup liang lahat seorang penyanyi yang selama hidupnya dikenal hangat, ramah, dan penuh tawa, Vidi Aldiano.
Di antara para pelayat yang datang, berdiri seorang pendakwah yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempat bertanya Vidi tentang hal-hal yang paling mendasar dalam hidup: ibadah, iman, dan cara tetap dekat kepada Tuhan di tengah sakit yang menggerogoti tubuhnya.
Dia adalah Husein Ja’far Al Hadar, yang akrab disapa Habib Ja’far.
Sesaat setelah prosesi pemakaman selesai pada Minggu pagi itu, Habib Ja’far bercerita pelan kepada awak media. Ada kisah yang mungkin tidak banyak diketahui publik: percakapan-percakapan sunyi antara dirinya dan Vidi, bukan tentang musik, bukan tentang panggung, melainkan tentang cara menjadi hamba yang lebih baik.
Habib Ja’far mengatakan, komunikasi dengan Vidi sudah terjalin cukup lama. Namun dalam beberapa waktu terakhir, mereka jarang bertemu langsung. Percakapan mereka lebih sering berlangsung lewat pesan singkat di WhatsApp.
Meski begitu, isi percakapannya hampir selalu sama: agama.
“Kalau WhatsApp-an masih sering,” kata Habib Ja’far di TPU Tanah Kusir, Minggu. “Dan semuanya tidak pernah personal. Urusannya selalu bertanya tentang berbagai hal soal ibadah,” tambah dia.
Bagi Habib Ja’far, yang membuatnya terkesan bukanlah frekuensi pesan itu, melainkan isi pertanyaannya. Vidi tidak pernah bertanya tentang popularitas, karier, atau hal-hal duniawi.
Yang dia tanyakan selalu satu arah: bagaimana memperbaiki ibadah.
Dalam ingatan Habib Ja’far, salah satu percakapan terakhir mereka terasa begitu membekas.
Saat itu, kondisi kesehatan Vidi sudah semakin terbatas. Penyakit yang selama bertahun-tahun dia lawan membuat tubuhnya tidak lagi sekuat dulu.
Namun justru dalam kondisi itu, pertanyaan-pertanyaan Vidi menjadi semakin dalam.
“Yang terakhir bertanya soal bagaimana keterbatasan beliau untuk berwudu dan salat,” kata Habib Ja’far.
Bagi banyak orang sehat, wudu dan salat adalah rutinitas yang dilakukan tanpa banyak berpikir. Namun bagi seseorang yang sedang sakit berat, bahkan gerakan kecil bisa menjadi perjuangan.
Dan justru di titik itulah Vidi mencari jawaban.
“Semua komunikasinya tentang bagaimana beliau lebih memperbaiki diri, lebih meningkatkan ibadahnya,” lanjut Habib Ja’far. “Selalu tentang itu yang ditanyakan.”
Nama lengkapnya adalah Oxavia Aldiano. Dunia mengenalnya sebagai penyanyi bersuara lembut yang melahirkan banyak lagu romantis, termasuk salah satu yang paling diingat publik: Nuansa Bening.
Namun di balik panggung dan sorotan lampu, Vidi menjalani perjalanan panjang yang tidak mudah.
Selama sekitar tujuh tahun, dia berjuang melawan kanker ginjal.
Perjalanan itu penuh operasi, terapi, dan masa-masa pemulihan yang panjang. Tetapi bagi orang-orang terdekatnya, satu hal yang selalu sama: Vidi jarang mengeluh.
Habib Ja’far melihat sesuatu yang berbeda dari cara Vidi menghadapi sakitnya.
“Penyakit itu bisa menjadi penggugur dosa,” ujarnya.
Apalagi, kata dia, Vidi menghadapi semuanya dengan ketabahan.
“Justru semakin dekat kepada Allah, semakin banyak ibadahnya,” kata Habib Ja’far.
Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu (7/3/2026) dalam usia 35 tahun. Bagi sebagian orang, angka itu terasa terlalu muda untuk sebuah perpisahan.
Namun Habib Ja’far melihatnya dari sudut pandang lain.
Dia mengatakan, waktu berpulangnya Vidi berada di momen yang oleh umat Islam dianggap istimewa: bulan suci Ramadan.
Bahkan lebih dari itu, hari yang diyakini bertepatan dengan peringatan turunnya Al-Qur’an, Nuzulul Quran pada 17 Ramadan.
“Insya Allah sahabat kita, keluarga kita, Vidi Aldiano, dalam keadaan yang terbaik,” kata Habib Ja’far.
“Karena di hari dan bulan yang terbaik.”
Sejak kabar duka itu menyebar, satu kata terus muncul dari berbagai pihak yang mengenal Vidi: baik.
Musisi, artis, sahabat, hingga orang-orang yang pernah bekerja dengannya hampir selalu menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan sosoknya.
Menurut Habib Ja’far, dalam ajaran Islam, kesaksian orang-orang tentang kebaikan seseorang yang telah meninggal bukan sekadar kenangan.
Itu adalah doa.
“Banyak orang menyebut beliau orang yang baik,” kata dia.
Dan bagi orang yang telah berpulang, kesaksian seperti itu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Prosesi pemakaman di TPU Tanah Kusir berlangsung sekitar dua jam hingga pukul 10.00 WIB. Pelayat datang dari berbagai kalangan: musisi, artis, selebritas, hingga para pemengaruh media sosial.
Di antara mereka, Vidi sering dijuluki dengan satu sebutan sederhana tetapi penuh makna: duta persahabatan.
Bukan karena jabatan resmi, tetapi karena caranya memperlakukan orang lain.
Dia dikenal mudah berteman dengan siapa saja. Banyak orang merasa dekat dengannya, bahkan jika mereka jarang bertemu.
Mungkin karena itu pula suasana pemakaman terasa begitu emosional.
Ada yang menangis diam-diam. Ada yang menatap tanah makam lama sekali sebelum akhirnya beranjak pergi.
Bagi Habib Ja’far, perpisahan ini bukan hanya tentang kehilangan. Ada pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan hidup Vidi.
Dia mengajak semua orang untuk melakukan dua hal sederhana.
“Hadiah terbaik untuk beliau ada dua,” katanya.
Yang pertama adalah mendoakan.
Dan yang kedua, sesuatu yang mungkin lebih sulit tetapi jauh lebih berarti.
“Memperbaiki diri,” kata Habib Ja’far.
Agar kisah hidup Vidi tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi pengingat.
Bahwa di balik popularitas, di balik panggung dan lagu-lagu indah, seorang manusia tetap mencari hal yang sama seperti manusia lain: jalan pulang yang baik.







