TANGERANG SELATAN– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan menetapkan status Siaga 1 banjir di sejumlah wilayah. Status ini diberlakukan setelah debit air di beberapa daerah aliran sungai meningkat akibat curah hujan yang masih tinggi.
Komandan Peleton Satgas BPBD Kota Tangsel, Dian Wiryawan mengatakan saat ini terdapat dua titik yang menjadi perhatian utama karena ketinggian muka air meningkat signifikan.
“Siaga 1 pada dua titik lokasi,” ujar Dian, Minggu (8/3/2026).
Dian menjelaskan, titik pertama berada di Kali Cantiga, Japos, Kecamatan Pondok Aren. Berdasarkan pemantauan meteran air pada pukul 12.05 WIB, tinggi muka air tercatat mencapai 255 sentimeter. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan banjir di kawasan Jalan Raya Ceger.
Sementara itu, titik kedua berada di Kali Angke, Jelupang, Kecamatan Serpong Utara. Pada pagi hari, tinggi muka air di lokasi tersebut mencapai 315 sentimeter.
Akibat kondisi tersebut, dua kawasan permukiman yang berada di wilayah Kayu Gede, Kelurahan Pakujaya, yakni Perumahan Villa Mutiara serta perumahan di sekitar kawasan tersebut dinilai rawan terendam banjir.
Selain itu, BPBD juga mencatat ketinggian muka air di Kali Serua mencapai 270 sentimeter. Kondisi ini berdampak pada warga di Perumahan Pondok Maharta dan Perumahan Kaveling Bulak yang berpotensi terdampak banjir.
BPBD Tangsel mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan masih berpotensi tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprakirakan adanya potensi hujan lebat di wilayah Banten pada periode 4–10 Maret 2026.
Kepala Balai Besar Wilayah II BMKG, Hartanto menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi oleh keberadaan bibit siklon tropis 90S yang terpantau di Samudra Hindia selatan wilayah Banten–Jawa Barat.
Bibit siklon tersebut memiliki peluang sedang hingga tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dan diperkirakan bergerak ke arah timur dalam 24 jam ke depan.
“Keberadaan sistem ini membentuk daerah pertemuan angin atau konfluensi di sepanjang Pulau Jawa sehingga mendukung potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Provinsi Banten,” jelas Hartanto.







