TANGERANG SELATAN – Makanan ultraproses kini dipandang sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Studi terbaru bahkan mengungkap bahwa jenis makanan ini memiliki kemiripan dengan rokok karena sama-sama dirancang untuk mendorong konsumsi berulang dan sulit dihentikan.
Mengutip laporan The Guardian, makanan ultraproses atau ultraprocessed foods (UPF) merupakan produk pangan yang dibuat melalui proses industri kompleks. Makanan ini umumnya mengandung berbagai bahan tambahan, seperti pewarna, perisa, hingga pemanis buatan. Contohnya meliputi camilan kemasan, biskuit, keripik, makanan cepat saji, serta minuman ringan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan Milbank Quarterly menilai bahwa makanan ultraproses secara khusus dirancang untuk memicu konsumsi berlebihan. Para peneliti menemukan kesamaan antara UPF dan rokok, terutama dalam cara keduanya memengaruhi sistem penghargaan di otak.
Produsen disebut mengatur kombinasi rasa, tekstur, dan kandungan tertentu agar produk memberikan sensasi nikmat secara cepat, sehingga memicu dorongan untuk terus mengonsumsinya. “Banyak makanan ultraproses memiliki karakteristik yang lebih mirip rokok dibandingkan buah atau sayuran segar,” tulis peneliti dalam laporan tersebut.
Salah satu penulis studi, Profesor Ashley Gearhardt, menyebut temuan ini sejalan dengan pengalaman klinisnya. Ia mengungkapkan banyak pasien merasakan dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan ultraproses yang sulit dikendalikan. “Mereka mengatakan merasa kecanduan. Ada yang mengaku sebelumnya kecanduan rokok, lalu kebiasaan itu berpindah ke soda dan donat,” ujar Gearhardt.
Meski rokok relatif masih bisa dihindari, makanan merupakan kebutuhan dasar, sehingga masyarakat sulit sepenuhnya melepaskan diri dari makanan ultraproses. Oleh karena itu, peneliti menekankan perlunya perubahan tidak hanya dari individu, tetapi juga dari industri pangan.
Langkah yang disarankan mencakup pembatasan iklan, pengetatan regulasi pemasaran, serta kebijakan struktural yang lebih tegas. “Produk ini berkembang di tengah lemahnya regulasi dan perubahan pola konsumsi,” kata Direktur Eksekutif Amref Health Africa, Dr. Githinji Gitahi.
Upaya tersebut dinilai penting karena konsumsi berlebihan makanan ultraproses dapat membebani sistem kesehatan, terutama di negara berkembang. Dampaknya antara lain peningkatan penyakit tidak menular, seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, kanker, hingga perlemakan hati.







