TANGERANG SELATAN – Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengklaim persoalan sampah yang sempat menjadi sorotan publik mulai tertangani. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya volume pengangkutan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Kota Serang, dalam beberapa waktu terakhir.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan peningkatan pengangkutan tersebut merupakan hasil optimalisasi kerja sama antara Pemkot Tangsel dan Pemerintah Kota Serang. Menurutnya, kapasitas angkut sampah mengalami lonjakan signifikan dibandingkan kondisi awal kerja sama.
“Awalnya hanya sekitar 10 truk dengan kapasitas empat ton per unit atau sekitar 40 ton per hari. Sekarang sudah meningkat,” ujar Benyamin di Kantor Wali Kota Tangsel, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, saat ini pengangkutan sampah dilakukan menggunakan 30 armada truk dengan total volume mencapai sekitar 120 ton per hari. Bahkan, dalam skema kerja sama tersebut, kapasitas maksimal pengiriman sampah dapat ditingkatkan hingga 70 truk per hari atau setara 280 ton.
“Kalau dimaksimalkan, bisa sampai 70 truk. Artinya sekitar 280 ton per hari, itu sudah sangat membantu menyelesaikan persoalan,” kata Benyamin.
Dalam perjanjian yang disepakati, Kota Tangerang Selatan memperoleh kuota pembuangan sampah ke TPAS Cilowong sebesar 400 hingga maksimal 500 ton per hari. Untuk memenuhi kuota tersebut, dibutuhkan sekitar 100 unit armada pengangkut.
Saat ini, Pemkot Tangsel mengoperasikan 27 unit truk milik sendiri, sementara tambahan 42 armada disediakan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Seluruh armada tersebut kini dioptimalkan untuk mempercepat pengiriman sampah ke TPAS Cilowong.
Benyamin mengklaim, dampak dari peningkatan pengangkutan sudah mulai terlihat di lapangan. Ia menyebut tumpukan sampah yang sebelumnya sempat terlihat di sejumlah ruas jalan kini sudah berkurang.
“Kemarin saya cek langsung, sudah tidak ada lagi sampah di median Jalan Ciputat. Alhamdulillah,” ujarnya.
Di sisi lain, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang di Serpong saat ini tidak lagi digunakan untuk menampung sampah baru. Area landfill seluas sekitar 8.000 meter persegi tersebut dialihkan fungsinya untuk kegiatan pemilahan dan pencacahan sampah anorganik guna mendukung proses daur ulang.
“Untuk sampah baru, TPA Cipeucang sudah tidak ideal lagi digunakan,” kata Benyamin.
Sebagai informasi, krisis sampah sempat terjadi di sejumlah wilayah Tangerang Selatan sejak pertengahan November 2025. Penutupan TPA Cipeucang pada 8 Desember 2025 menyebabkan terganggunya pengangkutan sampah, sehingga tumpukan sampah terlihat di jalanan, pasar, dan kawasan permukiman.







