TANGERANG– Bencana banjir yang melanda Kabupaten Tangerang terus meluas akibat meluapnya sejumlah aliran sungai. Tidak hanya merendam permukiman warga, banjir juga menggenangi sedikitnya 108 hektare area persawahan.
Seorang warga Desa Cikande, Kabupaten Tangerang, Radiani, mengatakan ratusan rumah di Perumahan Taman Cikande terendam banjir dengan ketinggian air mencapai dua meter. Banjir terjadi setelah Sungai Cidurian meluap pada Selasa (13/1/2026) malam.
“Tingginya debit air Sungai Cidurian membuat tanggul setinggi sekitar satu meter tidak mampu membendung derasnya limpasan air. Akibatnya, banyak warga terpaksa mengungsi, termasuk saya,” ujar Radiani kepada wartawan di Tangerang, Rabu (14/1/2026).
Radiani menyebut, sejumlah warga bahkan terpaksa membuat perahu darurat dari bambu dan galon untuk memudahkan mobilitas serta proses evakuasi warga terdampak banjir.
“Banjir merendam lima RT dan dua RW di perumahan ini. Dalam dua minggu terakhir, sudah tiga kali terjadi banjir. Di bagian belakang perumahan, ketinggian air hampir dua meter,” katanya.
Ia menambahkan, Perumahan Taman Cikande merupakan wilayah langganan banjir akibat luapan Sungai Cidurian. Kondisi tersebut, menurutnya, telah terjadi selama puluhan tahun.
“Banjir di sini merupakan banjir kiriman. Meski tidak hujan, tetap terjadi banjir jika sungai meluap,” ucap Radiani.
Hingga kini, Radiani mengaku belum ada bantuan dari pemerintah, baik berupa logistik maupun peralatan evakuasi. “Yang paling dibutuhkan saat ini adalah perahu, makanan, dan obat-obatan. Sampai sekarang belum ada bantuan,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Tigaraksa, Cucu Abdul Rosid, mengungkapkan sedikitnya 108 hektare lahan persawahan di wilayahnya terendam banjir. Area tersebut berada di Kadu Agung, Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.
“Total lahan sawah yang terdampak mencapai 108 hektare, terdiri dari 62 hektare di blok dua dan 46 hektare di blok tiga. Seluruhnya terancam gagal panen atau puso akibat banjir,” kata Cucu.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan petani karena berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi. Selain merendam lahan pertanian, banjir juga menggenangi 30 rumah warga akibat luapan Sungai Cimanceuri.
Akibat luapan tersebut, sejumlah kepala keluarga bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya debit air yang masuk ke permukiman. Ketinggian air di kawasan permukiman tercatat mencapai 20 hingga 40 sentimeter.
“Namun di area pertanian, ketinggian air bisa mencapai lebih dari satu meter. Fenomena ini bukan hanya dipicu hujan lokal, tetapi juga hujan deras di wilayah hulu seperti Bogor,” jelasnya.
Sebelumnya, sekitar 50 ribu warga Kabupaten Tangerang dilaporkan terdampak banjir akibat cuaca ekstrem dan tingginya intensitas hujan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 jiwa dievakuasi dan 1.000 lainnya terpaksa mengungsi.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Ahmad Taufik, menyebutkan banjir berdampak pada enam kecamatan, dengan kondisi terparah terjadi di Kecamatan Kosambi, Teluknaga, Pakuhaji, Pasar Kemis, Mauk, dan Sepatan.
“Update terakhir, sekitar 10 ribu kepala keluarga terdampak, atau setara dengan 45 hingga 50 ribu jiwa,” ujar Taufik, Selasa (13/1/2026).







