TANGERANG SELATAN – Orangtua tidak selalu perlu panik ketika anak mengalami demam. Dalam kondisi tertentu, demam merupakan respons normal tubuh saat melawan infeksi atau setelah imunisasi. Namun, demam yang naik turun hingga berlangsung selama satu minggu tetap perlu mendapat perhatian khusus.
Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), demam pada anak umumnya merupakan reaksi alami sistem imun terhadap kuman. Karena itu, tidak semua demam menandakan kondisi berbahaya.
Saat anak demam, orang tua disarankan mengamati kondisi umum dan aktivitas anak. Jika anak masih aktif bermain, makan dan minum dengan baik, serta buang air kecil setiap 3–4 jam, demam biasanya dapat ditangani dengan perawatan di rumah.
Sebaliknya, orang tua perlu waspada apabila anak terlihat lesu, lebih sering tidur, enggan makan dan minum, atau frekuensi buang air kecil berkurang drastis. Kondisi tersebut menjadi tanda anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Salah satu penyebab demam naik turun dalam waktu lama adalah demam periodik. Dilansir dari Mayo Clinic, demam periodik ditandai dengan suhu tubuh yang kembali normal selama beberapa waktu, kemudian meningkat secara tiba-tiba hingga mencapai demam tinggi, bahkan hingga 40 derajat Celsius. Kondisi ini biasanya berlangsung beberapa hari dan dapat mereda dengan sendirinya.
Demam periodik memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah PFAPA, singkatan dari periodic fever, aphthous stomatitis, pharyngitis, dan adenitis. Anak dengan PFAPA umumnya mengalami demam berulang disertai sakit tenggorokan, sariawan, serta pembengkakan kelenjar di leher.
PFAPA biasanya muncul pada anak usia di bawah lima tahun dengan pola demam berulang setiap tiga hingga lima minggu. Hingga kini, penyebab pasti kondisi tersebut belum diketahui, meski diduga berkaitan dengan infeksi atau respons imun tubuh.
Secara umum, demam periodik tidak berbahaya. Namun, penyakit atau infeksi yang menyertai demam tersebut perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan komplikasi kesehatan yang lebih serius. Anak yang demam biasanya hanya merasa tidak nyaman, tetapi tetap perlu pemantauan ketat dari orangtua.







