TANGERANG SELATAN – Banyak orang yang ingin menurunkan berat badan, khususnya menghilangkan lemak di perut, memilih jalan pintas dengan melewatkan waktu makan. Namun, muncul pertanyaan: lebih efektif melewatkan sarapan atau justru makan malam?
Minh (30), seorang pekerja kantoran, mengaku masih bimbang menentukan strategi penurunan berat badan yang tepat. Aktivitas kerja yang mengharuskannya duduk berjam-jam di depan komputer membuatnya ingin mencari cara cepat untuk mengurangi lemak tubuh.
“Saya ingin menurunkan berat badan dengan cara melewatkan waktu makan. Tapi saya ragu, lebih baik meninggalkan sarapan atau makan malam?” ujar Minh, dikutip dari VNExpress.
Menanggapi hal tersebut, dokter spesialis gizi dari University Medical Center Ho Chi Minh City, Dr. Pham Anh Ngan, menjelaskan bahwa metode intermittent fasting, khususnya pola makan dengan batas waktu (time-restricted eating), memang terbukti dapat membantu menurunkan berat badan serta memperbaiki sejumlah indikator kesehatan.
“Dalam kebiasaan makan yang berbeda-beda, waktu makan utama bisa berada di pagi, siang, atau malam hari. Biasanya, waktu makan utama mengandung protein dan sayuran lebih banyak dibandingkan waktu makan lainnya,” kata Dr. Pham Anh Ngan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa melewatkan makan malam cenderung lebih efektif dalam mengurangi total asupan kalori harian. Strategi ini dinilai menarik bagi mereka yang ingin mengecilkan perut buncit.
Namun, Dr. Pham Anh Ngan mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut juga memiliki risiko jika dilakukan tanpa perencanaan matang.
“Melewatkan makan malam dapat memperlambat metabolisme, mengganggu kualitas tidur, meningkatkan rasa lapar berlebihan, hingga menurunkan daya tahan tubuh,” ujarnya.
Selain itu, risiko kekurangan nutrisi juga dapat terjadi apabila pola makan tidak seimbang.
Sementara itu, melewatkan sarapan kerap dianggap lebih mudah dilakukan, terutama bagi orang yang tidak terbiasa makan pagi. Sebagian orang bahkan merasa lebih fokus dan segar saat bekerja.
Meski demikian, rasa lapar yang menumpuk berpotensi memicu pola makan berlebihan di siang atau malam hari.
“Orang yang tidak sarapan cenderung memilih makanan tinggi gula dan lemak pada waktu makan berikutnya,” kata Dr. Pham Anh Ngan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa meski melewatkan sarapan dapat meningkatkan sensitivitas insulin, respons gula darah dan insulin justru bisa memburuk pada waktu makan terakhir di hari tersebut.
Menurut para ahli, tidak ada satu metode yang cocok untuk semua orang. Baik melewatkan sarapan maupun makan malam sama-sama memiliki manfaat dan risiko.
“Keputusan melewatkan sarapan atau makan malam harus fleksibel dan disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing,” tegas Dr. Pham Anh Ngan.
Bagi pekerja kantoran yang membutuhkan konsentrasi tinggi sepanjang hari, sarapan tetap dinilai penting untuk menyediakan energi bagi otak dan tubuh.
Alih-alih fokus melewatkan waktu makan, para ahli gizi menyarankan pendekatan yang lebih seimbang, seperti memperbanyak konsumsi sayuran, memilih sumber protein nabati, mengurangi karbohidrat sederhana, serta menyesuaikan pola makan dengan aktivitas fisik.
“Konsultasi dengan ahli gizi sangat disarankan agar penurunan berat badan berjalan aman dan sesuai kondisi tubuh,” pungkasnya.







