TANGERANG SELATAN – Saat ini, muncul kondisi yang mengkhawatirkan di kalangan remaja laki-laki dan perlu mendapat perhatian serius dari para orang tua. Kondisi tersebut dikenal sebagai bigorexia, sebuah gangguan psikologis yang berkaitan dengan obsesi berlebihan terhadap ukuran dan bentuk tubuh.
Bigorexia merupakan jenis gangguan dismorfik tubuh, di mana penderitanya memiliki pandangan negatif terhadap tubuh sendiri, khususnya terkait ukuran otot dan penampilan fisik.
Bigorexia adalah kondisi psikologis dengan citra diri yang terdistorsi, yang secara spesifik berfokus pada ukuran otot dan penampilan fisik,” ujar terapis gangguan makan bersertifikat, Kara Backer, dikutip dari HuffPost.
Individu yang mengalami bigorexia kerap merasa tubuhnya tidak cukup berotot, meskipun secara fisik sudah terlihat kekar. Perasaan ini kemudian memicu berbagai perilaku tidak sehat.
“Keyakinan tersebut dapat mendorong perilaku yang tidak sehat, termasuk olahraga secara obsesif dan perubahan pola makan yang ekstrem,” jelas psikolog klinis Amy Gooding.
Gangguan ini sebenarnya dapat dialami siapa saja, namun belakangan lebih sering ditemukan pada laki-laki, terutama remaja. Sebuah studi mencatat, sekitar 22 persen remaja laki-laki terlibat dalam perilaku makan tidak teratur yang berorientasi pada pembentukan otot.
Dalam upaya mencapai tubuh ideal versi mereka, sebagian remaja melakukan berbagai cara, mulai dari mengonsumsi suplemen secara berlebihan, mengubah pola makan secara ekstrem, hingga menggunakan steroid—praktik yang kini semakin sering ditemukan.
Bigorexia dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti aspek biologis, psikologis, dan sosial budaya. Riwayat keluarga dengan gangguan kesehatan mental, terutama yang berkaitan dengan citra tubuh dan kecemasan, serta rendahnya harga diri, juga dapat meningkatkan risiko. Paparan konten media sosial yang menonjolkan tubuh berotot secara berlebihan turut menjadi pemicu.
Penanganan bigorexia masih menghadapi banyak tantangan karena kondisi ini belum banyak dikenali. Penderitanya pun sering kesulitan untuk terbuka dan meminta bantuan.
“Mereka yang berjuang dengan kondisi ini kerap ragu mencari pertolongan karena rasa malu, keinginan merahasiakan, atau karena perilaku tersebut dianggap normal di lingkungan mereka,” ungkap dokter spesialis anak, Jason Nagata.
Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting dalam pencegahan dan penanganan bigorexia pada remaja. Upaya tersebut dapat dimulai dengan membatasi penggunaan media sosial, serta membangun komunikasi yang terbuka dengan anak.
“Batasi konsumsi media sosial sebisa mungkin. Dengarkan apa yang mereka sampaikan, bagaimana mereka menafsirkan apa yang dilihat, dan pastikan mereka memahami bahwa tidak semua yang ada di media sosial mencerminkan kenyataan,” pungkasnya.







