KECEPATAN adan instan adalah hal yang tidak bisa lepas dari karakteristik kebiasaan Gen Z. Kesulitan membendung nafsu belanja ini juga diakibatkan oleh kompleksitas dan kemudahan yang ditawarkan oleh e-commerce. Dengan satu klik, barang bisa sampai di depan rumah. Dengan satu notif, niat untuk menahan diri bisa buyar.
Fenomena impulsive buying bukan sekadar soal gaya hidup dan pola konsumtif, namun juga merupakan gambaran dari kompleksitas masyarakat 2.0, yang di satu sisi dipenuhi tekanan dan di sisi lain, masyarakat ini butuh pelarian, validasi, dan kebahagiaan instan.
Berdasarkan survei dari GoodStats, bahwa sekitar 12% konsumen Indonesia memiliki kecenderungan impulsif saat berbelanja. Penyebab dari impulsive buying yaitu maraknya FOMO (Fears Of Missing Out) yaitu takutnya ketinggalan akan suatu tren, pengalaman ataupun kesempatan yang sedang populer.
Tanpa disadari, berbelanja sebenarnya bukan tentang apa yang kita perlukan lagi, tapi sepenuhnya tentang perasaan kita. Saat Anda sangat lelah karena pekerjaan atau hanya merasa bosan, banyak orang yang memilih untuk berbelanja online. Begitu Anda mengklik sesuatu, Anda mendapatkan perasaan yang menyenangkan dan menenangkan seperti, kepuasan. Meski biasanya hanya berlangsung sebentar. Itu karena otak kita melepaskan dopamin, hormon “bahagia” yang membuat kita ketagihan, seperti melihat dan melihat promosi kilat tersebut.
Tapi masalahnya, perasaan itu hilang dengan sangat cepat, tapi tagihan dan rasa bersalahnya bertahan lebih lama. Gen Z, yang tumbuh besar dengan internet, sering kali menjadi korban notifikasi push yang terlalu menggiurkan, seperti “Diskon 70% hari ini saja!” atau “gratis ongkos kirim, tanpa minimum pembelian!” Serius, di balik semua aplikasi belanja yang lucu dan penuh warna itu, ada semacam strategi psikologis yang dimaksudkan untuk membuat kita berbelanja secara impulsif.
Bahkan ada yang lebih parah lagi, ada rasa takut ketinggalan atau yang biasa kita sebut FOMO, yang membuat kita merasa harus membeli sesuatu karena semua orang dan teman kita juga membelinya. Entah itu gantungan tas yang lucu-lucu, kacamata estetik, atau merchandise edisi terbatas yang nggak terlalu kamu perlukan. Rasanya kalau kita tidak membelinya, kita akan ketinggalan sesuatu atau menjadi, misalnya, tidak keren atau “kekinian”. Tapi sebenarnya yang hilang adalah uang di rekening bank kita.
Jadi, buat kamu yang mulai merasa kebiasaan belanjamu sudah tidak terkendali, tenang saja. Maksud saya, ini tidak berarti Anda harus berhenti berbelanja sepenuhnya, hanya saja cobalah untuk lebih waspada dan terkendali. Yuk, coba cara sederhana ini untuk menjaga dompetmu tetap aman tanpa kehilangan rasa senang saat berbelanja.
Strategi Generasi Z Melawan Pembelian Impulsif
1. Buat aturan belanja versi Anda sendiri.
Mulailah dengan menetapkan batas dan memprioritaskan kebutuhan pokok serta tagihan, terpisah dari keinginan sesaat. Catat uang masuk dan keluar, bisa di Excel maupun aplikasi keuangan digital, agar arus kas mudah dipantau secara instan.
2. Pisahkan Hadiah dan Pelarian
Memberi self-reward itu tidak masalah, selama bukan cara untuk lari dari stres atau rasa bosan. Penghargaan diri yang sejati berakar pada rasa syukur, bukan penghindaran. Karena itu, saat ingin memberi diri sendiri hadiah, pilih aktivitas yang menyenangkan namun tetap ramah di dompet, seperti jalan sore sambil mendengarkan musik, olahraga ringan, atau journaling ditemani secangkir kopi.
3. Pilih lingkungan digital Anda
Pilih lingkungan digital dengan bijak. Jika notifikasi belanja terus muncul, jangan menyalahkan diri sendiri, itu ulah algoritma. Unfollow merek atau influencer pemicu, agar feed tetap tenang dan belanja lebih sadar. Sebelum membeli, tunggu dalam waktu 3 hari “Apakah saya benar-benar butuh ini, atau hanya keinginan sesaat?” Jika ragu, tunda pembelian.
4. Prioritaskan menabung sebelum belanja
Biasakan menyisihkan uang untuk tabungan atau dana darurat sebelum belanja. Tetapkan target menabung yang jelas, seperti nominal tetap setiap kali terima uang, untuk membantu mengontrol pengeluaran dan mengurangi belanja impulsif.
Pada akhirnya, menahan keinginan berbelanja secara impulsif bukan berarti mengingkari kesenangan, melainkan belajar menata kembali cara kita mencari kebahagiaan bukan melalui keranjang belanjaan, melainkan melalui kesadaran diri.
Generasi Z tetap bisa tampil modis dan mengikuti perkembangan zaman, namun tetap sadar bahwa pengendalian diri jauh lebih berharga daripada promo “tengah malam”. Di era yang serba cepat ini, kemampuan menahan jari sebelum menekan tombol “checkout” bisa menjadi bentuk cinta diri yang paling tulus.
Penulis:
Sari Septianingsih
Mahasiswi Universitas Pamulang Jurusan Akuntansi







