TANGERANG SELATAN – Pada era modern seperti sekarang, stres sudah menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan banyak orang. Tingginya tekanan hidup membuat kondisi ini semakin umum terjadi.
Menariknya, sebuah studi menyamakan stres manusia masa kini dengan situasi seolah-olah seseorang harus berhadapan dengan singa setiap hari.
Penelitian yang dilakukan dua antropolog, Colin Shaw dan Daniel Logman, menemukan bahwa kehidupan modern dipenuhi pemicu stres, mulai dari banjir email, kebisingan jalan raya, sampai berbagai gangguan kecil yang membuat tubuh terus berada dalam mode waspada.
Kondisi tersebut tidak hanya membuat mental lebih rentan, tetapi juga memicu berbagai gangguan fisik seperti penurunan fungsi kognitif, penyakit autoimun, hingga menurunnya tingkat kesuburan.
Peneliti juga menyoroti bahwa masyarakat perkotaan cenderung memiliki tingkat kebugaran lebih rendah akibat polusi udara dan faktor lingkungan lainnya.
Belum lagi tambahan stressor seperti paparan cahaya buatan, mikroplastik, serta pola hidup sedentari. Semua faktor ini memicu respons stres tubuh, persis seperti ketika nenek moyang kita menghadapi bahaya nyata di alam liar.
“Tubuh kita bereaksi seakan semua pemicu tersebut adalah singa. Entah itu berdebat dengan pasangan, teguran dari atasan, atau bisingnya lalu lintas, semuanya memicu respons stres yang sama,” kata Shaw, dikutip dari Science Direct.
Studi ini pada dasarnya merangkum berbagai penelitian sebelumnya terkait dampak lingkungan modern terhadap kesehatan manusia.
Meskipun manusia saat ini memiliki teknologi, kenyamanan, dan kemajuan, tingkat kecemasan dan depresi justru lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Untuk membantu menurunkan tekanan tersebut, Shaw menyarankan agar orang-orang meluangkan waktu berada di alam. Jika tidak memungkinkan, sekadar melihat foto pemandangan alam pun diyakini dapat memberikan efek menenangkan.







