TANGSELXPRESS – Dalam rangka memperingati 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), Kementerian Kebudayaan menggelar Pameran Filateli Konferensi Asia Afrika di Kantor Pos Asia Afrika, Bandung.
Acara ini bekerja sama dengan PT Pos Indonesia, Perkumpulan Filatelis Indonesia, Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Komunikasi dan Digital,
Kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan dari PT Pos Indonesia antara lain Haris selaku Direktur Bisnis Jasa Keuangan, M Subhan selaku Executive General Manager KCU Bandung, dan Hani Sartana selaku EVP Regional 3 Bandung, serta Ketua Kamar Dagang dan Industri Provinsi Jawa Barat, Almer Faiq Rusydi.
Kemudian Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Nuzrul Irwan Irawan; Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Ramdhani; Kepala Museum Konferensi Asia Afrika; dan, Al Busyra Basnur sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika.
Acara ini ditandai dengan peresmian dan penandatanganan Sampul Pameran Filateli Peringatan 70 Tahun KAA oleh Menteri Kebudayaan, disaksikan oleh para pejabat serta tamu undangan.
Turut hadir dalam pembukaan pameran tersebut, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah Tjahjani; Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; Staf Ahli Menteri Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma; serta jajaran Kementerian Kebudayaan.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan pentingnya peringatan 70 tahun KAA sebagai refleksi peran Indonesia di kancah dunia.
“Kita memperingati sebuah peristiwa besar: Konferensi Asia Afrika, di mana Indonesia yang baru sepuluh tahun merdeka saat itu, mampu tampil sebagai pemimpin bangsa-bangsa Asia dan Afrika,” ungkap Fadli Zon dalam keterangannya, Senin (27/4/2025).
Fadli menambahkan, KAA dihadiri 29 negara dan melahirkan sebuah deklarasi yang disebut Dasa Sila Bandung yang menjadi fondasi bagi kerja sama antara negara-negara di Asia dan Afrika, perdamaian, penghormatan kepada kedaulatan setiap bangsa, serta memperjuangkan nasib negara-negara yang masih berada dalam kolonialisme.
Fadli juga menekankan bahwa semangat Bandung yang lahir dari KAA tetap relevan hingga hari ini. Beliau menceritakan bagaimana ketika dirinya menyambangi sejumlah negara di Asia dan Afrika serta negara lainnya.
“Bandung Spirit masih terasa kuat, khususnya di negara-negara Asia dan Afrika. Semangat solidaritas dan perjuangan untuk kemerdekaan tetap hidup. Hari ini, kita masih punya hutang sejarah, salah satunya kepada Palestina yang masih berjuang untuk kemerdekaan,” tuturnya.
Melalui pameran ini, Menteri Kebudayaan mengajak masyarakat untuk memahami bahwa filateli bukan sekadar hobi atau alat surat-menyurat, melainkan juga bagian dari dokumentasi sejarah dan kedaulatan bangsa.
Dirinya juga menekankan, melalui pameran ini dapat menjadi ajang dalam mengenang semangat Bandung dan mengapresiasi peran filateli
sebagai saksi bisu dinamika dunia.
“Prangko adalah ekspresi kedaulatan. Seperti halnya uang, prangko menjadi simbol identitas dan medium diplomasi budaya. Prangko juga menjadi suatu cermin budaya, politik, dan identitas bangsa sehingga dapat menjadi momentum kita semua dalam mengenang
sejarah perjuangan bangsa, termasuk momen bersejarah seperti KAA ini,” lanjutnya.
Menteri Kebudayaan juga mengapresiasi kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, PT Pos Indonesia, komunitas filateli, serta seluruh stakeholder terkait yang telah menghadirkan pameran ini.
“Dengan kehadiran prangko seri khusus Konferensi Asia Afrika, kita tidak hanya mengenang peristiwa penting, tetapi juga menyampaikan pesan solidaritas dan persahabatan antarbangsa kepada dunia internasional,” jelasnya.
Menteri juga menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan pameran filateli kali ini dan berharap lebih banyak generasi muda, siswa, mahasiswa, serta tokoh masyarakat yang mengenal sejarah melalui prangko. Beliau juga mengungkapkan kepemilikan koleksi foto asli Konferensi Asia Afrika yang kini turut dipamerkan.
Dalam momentum peringatan 70 tahun KAA tahun 2025, Kementerian Kebudayaan juga meluncurkan sampul peringatan bertema “Satu Sejarah, Beragam Budaya”.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan bersama para sejarahwan tengah menyiapkan buku sejarah Indonesia dalam 10 jilid sebagai hadiah menjelang 80 tahun Indonesia Merdeka.
“Sejarah ini sangat penting karena menjadi fondasi dan dasar kita untuk menata diri hari ini dan ke depan,” tutupnya.







