TANGSELXPRESS – Bank Indonesia (BI) pun angkat suara dan ikut mengantisipasi terkait maraknya kasus peredaran uang palsu terutama jelang Hari Raya Idul Fitri.
Pada tahun ini, Bank Indonesia telah mempersiapkan uang layak edar (ULE) sebesar Rp180,9 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan dan Idul Fitri yang didistribusikan melalui penarikan perbankan maupun layanan penukaran uang rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Anwar Bashori mengatakan, penukaran uang melalui mekanisme jual-beli di luar layanan resmi BI dan perbankan memiliki risiko tinggi bagi masyarakat diantaranya tidak terjamin keasliannya, sulit dipastikan akurasi jumlahnya, hingga rawan penipuan yang dapat merugikan masyarakat secara finansial.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, uang sejatinya merupakan simbol kedaulatan negara yang wajib dijunjung tinggi kehormatannya dan sepatutnya diperlakukan dengan baik. Untuk itu, Bank Indonesia mengimbau agar masyarakat menggunakan uang rupiah sebagai alat pembayaran dalam transaksi di Indonesia dengan baik dan tidak menjadikan uang rupiah sebagai komoditi yang diperdagangkan,” kata dia dalam keterangan resminya dikutip Kamis, 27 Maret 2025.
Untuk mencegah agar masyarakat tidak merugi karena uang palsu, BI mengimbau agar mengoptimalkan penggunaan aplikasi Penukaran dan Tarik Uang Rupiah (PINTAR), termasuk dalam akses layanan penukaran di loket perbankan.
Layanan penukaran ini mengacu pada ketentuan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.21/10/PBI/2019 tentang Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) dan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No.19/13/PADG/2017 tentang Penukaran Uang Rupiah yang berlaku sama untuk seluruh masyarakat.
Selain itu, dalam PBI PUR telah diatur bahwa layanan penukaran kepada masyarakat dilakukan oleh Bank Indonesia, bank yang beroperasi di wilayah Indonesia, dan pihak lainnya yang ditunjuk oleh Bank Indonesia.
“Untuk itu, Bank Indonesia mengimbau agar masyarakat hanya melakukan penukaran uang rupiah di layanan resmi Bank Indonesia dan perbankan agar terjamin keasliannya dan terjaga keamanannya,” lanjut Anwar.
Lebih lanjut, kata Anwar BI juga memberikan layanan penukaran tematik melalui kas keliling di beberapa titik strategis di wilayah Indonesia.
Kas ini dipastikan tidak dipungut biaya. Pasalnya, sepanjang Ramadan dan jelang lebaran, banyak oknum memanfaatkan momen ini membuka jasa penukaran uang dengan tambahan biaya.
“Seluruh layanan kas keliling Bank Indonesia tidak memungut biaya apapun dari masyarakat sehingga masyarakat atau pemudik yang masih membutuhkan uang rupiah pecahan kecil dapat mengunjungi layanan kas keliling Bank Indonesia untuk mendapatkan akses penukaran uang rupiah yang terjamin aman dan nyaman,” ucapnya.
Cara Bedakan Uang Asli dan Uang Palsu
Agar tidak menjadi korban peredaran uang palsu, masyarakat perlu memahami cara membedakannya. Bank Indonesia telah mensosialisasikan metode 3D yaitu dilihat, diraba, dan diterawang sebagai langkah dasar dalam mengenali keaslian uang.
Dilihat – perhatikan warna dan gambar pada uang. Uang asli memiliki warna yang lebih tajam dan tidak luntur.
Diraba – uang asli memiliki tekstur kasar pada bagian tertentu, terutama pada gambar utama dan angka nominalnya.
Diterawang – terdapat tanda air (watermark) berupa gambar pahlawan serta benang pengaman yang akan terlihat jelas saat diterawang ke arah cahaya terutama sinar ultraviolet. Fitur keamanan uang asli hanya terlihat di bawah sinar UV, seperti serat-serat halus yang bercahaya.







