TANGSELXPRESS– Penyakit jantung dan pembuluh darah terus menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia, bertanggung jawab atas angka kematian dan kesakitan yang signifikan. Penyakit Jantung Koroner, gangguan irama jantung, seperti atrial fibrilasi dapat berkontribusi pada terjadinya gagal jantung dan merupakan manifestasi klinis yang paling umum dan serius dari penyakit kardiovaskular.
Menurut data dari World Health Organization, penyakit jantung koroner dan stroke bersama-sama bertanggung jawab atas lebih dari 15 juta kematian setiap tahun secara global, menjadikannya penyebab kematian nomor satu di dunia.
Di antara berbagai faktor risiko penyakit jantung, beberapa seperti kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi dan merokok mungkin sudah umum dikenali. Namun, ada juga penyebab penting lainnya yang sering kali terlewatkan, yaitu mengorok disertai henti nafas, atau istilah medisnya Obstructive Sleep Apnea (OSA).
OSA adalah gangguan tidur di mana individu mengalami berhenti nafas berulang selama tidur, yang seringkali disertai dengan mengorok keras. Statistik menunjukkan bahwa sekitar 26% populasi dewasa mungkin menderita OSA, dengan mayoritas kasus yang tidak terdiagnosis karena banyak orang yang mengalaminya tidak menyadari gejala mereka.
Apa yang Terjadi Ketika Terjadi Obstructive Sleep Apnea (OSA)?
Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur yang serius, di mana individu mengalami penyumbatan berulang pada saluran napas atas selama tidur. Ini mengakibatkan henti napas berulang dan penurunan signifikan dalam aliran udara. Fenomena ini tidak hanya mengganggu kualitas tidur tetapi juga mempengaruhi berbagai sistem di tubuh kita. Pemahaman mengenai apa yang apa yang terjadi terjadinya OSA diperlukan untuk memahami dampaknya. Berikut adalah uraian tentang apa yang terjadi selama episode OSA:
1. Penutupan Jalan Napas
Selama tidur, otot-otot di sekitar tenggorokan dan lidah biasanya mengendur. Bagi individu dengan OSA, relaksasi ini berlebihan sehingga jaringan lunak di bagian belakang tenggorokan jatuh dan menyumbat saluran napas. Ini mencegah aliran udara masuk ke paru-paru. Penyumbatan ini bisa total (apnea) atau parsial (hipopnea).
2. Henti Napas
Ketika jalan napas terhalang, tidak ada oksigen yang masuk, dan ini menghentikan pernapasan. Episode ini bisa berlangsung selama beberapa detik hingga lebih dari satu menit. Selama ini, kadar oksigen dalam darah bisa turun secara dramatis.
3. Upaya untuk Bernapas
Meskipun jalan napas terhalang, upaya untuk bernapas tetap berlanjut. Ini menciptakan tekanan negatif di dada, mencoba menarik udara masuk melalui jalan napas yang tersumbat. Tekanan negatif ini bisa memiliki efek mekanis langsung pada jantung dengan mempengaruhi cara jantung mengisi dan memompa darah.
4. Mikro Bangun (Micro Arausal)
Pada titik tertentu, otak menyadari bahwa tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen dan memicu “mikro bangun” atau arousal. Ini adalah perubahan singkat dan tiba-tiba dari tidur dalam ke tidur lebih ringan atau keadaan setengah terjaga, yang seringkali tidak disadari oleh individu tersebut. Arousal ini memungkinkan otot-otot tenggorokan untuk mengencang kembali dan membuka jalan napas, memungkinkan pernapasan untuk dimulai lagi.
5. Kembali Tidur
Setelah jalan napas terbuka dan pernapasan dinormalisasi, individu biasanya kembali tidur dengan cepat. Namun, karena siklus ini bisa terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam, tidur menjadi sangat terfragmentasi dan kualitasnya menjadi sangat buruk.
Dampak langsung dari episode OSA meliputi kelelahan di siang hari, sakit kepala pagi, dan suasana hati yang buruk karena tidur yang tidak berkualitas. Jika tidak diobati, OSA juga meningkatkan risiko kondisi jangka panjang yang lebih serius, termasuk hipertensi, penyakit jantung, diabetes, dan stroke.
Dampak OSA terhadap Jantung dan Pembuluh Darah
Obstructive Sleep Apnea (OSA) tidak hanya mengganggu kualitas tidur tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Berikut ini adalah beberapa cara utama OSA mempengaruhi jantung dan pembuluh darah:
1. Hipertensi
OSA dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung. Ketika seseorang mengalami henti napas berulang selama tidur, tubuh mengalami penurunan kadar oksigen darah, yang memicu respon dari sistem saraf simpatik untuk meningkatkan tekanan darah. Respons ini, yang dimaksudkan untuk mempercepat aliran darah dan meningkatkan oksigenasi, dapat berkontribusi pada tekanan darah tinggi yang kronis, bahkan saat seseorang terjaga.
2. Atrial Fibrilasi
Penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan OSA memiliki risiko lebih tinggi mengalami atrial fibrilasi, sebuah jenis aritmia di mana atrium jantung berkontraksi secara tidak normal. Ketegangan pada jantung akibat upaya berulang untuk bernapas melawan sumbatan jalan napas, bersama dengan stres oksidatif dan inflamasi yang disebabkan oleh kejadian hipoksia berulang, dapat merusak struktur dan fungsi jantung, meningkatkan risiko atrial fibrilasi.
3. Penyakit Jantung Koroner
Fluktuasi oksigen dan tekanan darah yang terjadi akibat OSA dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Kekurangan oksigen berulang dapat mempercepat proses aterosklerosis, di mana plak terbentuk di dalam arteri yang memasok darah ke jantung. Ketika plak ini pecah atau menyumbat arteri, bisa terjadi serangan jantung.
4. Gagal Jantung
OSA secara langsung mempengaruhi kinerja jantung. Serangan berulang dari hipoksia dan fluktuasi tekanan intratorakal dapat menyebabkan peningkatan beban kerja jantung yang secara bertahap bisa melemahkan otot jantung, mengarah pada gagal jantung. Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara efisien dapat mengakibatkan kelelahan, sesak napas, dan kemampuan berkurang untuk melakukan aktivitas fisik.
5. Peningkatan Risiko Stroke
OSA juga meningkatkan risiko stroke, yang terjadi ketika pasokan darah ke sebagian otak terhambat. Gangguan dalam pola tidur dan peningkatan tekanan darah yang berhubungan dengan OSA dapat mempengaruhi sirkulasi darah otak dan meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah.
6. Meningkatnya Risiko Diabetes
Selain dampak pada kesehatan kardiovaskular, OSA juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko diabetes tipe 2. Gangguan tidur dan hipoksia intermiten yang terjadi selama OSA mengganggu keseimbangan hormon dan sensitivitas insulin. Kualitas tidur yang buruk dan gangguan tidur terkait dengan OSA sering kali meningkatkan produksi hormon lapar, seperti ghrelin, sementara mengurangi produksi hormon yang menyebabkan rasa kenyang, seperti leptin. Peningkatan hormon lapar ini, ketika digabungkan dengan rasa lelah yang ditimbulkan oleh kualitas tidur yang buruk, mendorong penderita OSA untuk makan berlebih. Lebih lanjut, kelelahan dan kurangnya energi yang disebabkan oleh tidur yang terganggu membuat individu dengan OSA cenderung mengurangi aktivitas fisik. Kombinasi dari asupan kalori yang tinggi dan aktivitas fisik yang rendah memicu kenaikan berat badan, yang selanjutnya memperburuk resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes. Ini menciptakan lingkaran setan antara OSA, obesitas, dan diabetes yang dapat sulit untuk dipecahkan tanpa intervensi medis yang efektif.







