TANGSELXPRESS – Sebuah insiden tabrakan antara KA Brantas dengan sebuah truk terjadi di Semarang pada tengah pekan ini. Dalam insiden tersebut, diketahui truk mengalami mogok mesin di atas rel.
Truk tersebut akhirnya tertabrak dan sempat mengeluarkan api. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Mengenai kejadian tabrakan di Semarang yang menyebabkan satu orang terluka itu, banyak yang bertanya mengapa masinis tidak mengerem kereta untuk menghindari tabrakan.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) KAI menjelaskan alasan mengapa kereta api tidak bisa mengerem mendadak.
Dikutip dari unggahan di akun Twitter resmi KAI (@KAI121), salah satu faktor utama kereta api tidak dapat berhenti mendadak adalah karena panjang dan bobotnya.
Semakin panjang dan berat rangkaian kereta, maka jarak yang dibutuhkan untuk mengerem hingga kereta benar-benar berhenti akan semakin panjang/lama.
Di Indonesia sendiri, rata-rata kereta penumpang terdiri dari 8-12 rangkaian gerbong dengan bobot mencapai 600 ton. Sistem pengereman kereta yang dipakai saat ini sendiri menggunakan jenis rem udara. Adapun cara kerja rem udara adalah mengompresi udara ddan disimpan hingga proses pengereman terjadi.
Walaupun kereta sudah dilengkapi dengan rem darurat, rem ini juga tetap tidak bisa membuat kereta berhenti mendadak. Rem ini hanya akan menghasilkan lebih banyak energi dan tekanan udara yang lebih besar untuk menghentikan kereta lebih cepat.
KAI juga menjelaskan bahwa ada enam faktor yang berpengaruh pada jarak pengereman:
1. Kecepatan kereta api,
2. Kemiringan/lereng jalan rel,
3. Persentase gaya pengereman,
4. Jenis kereta api,
5. Jenis rem,
6. Kondisi cuaca.
Kereta Api Tidak Bisa Berhenti atau Mengerem Mendadak! Ini Alasannya.
Masyarakat umum, banyak yang belum mengetahui kalau kereta api tidak bisa berhenti atau mengerem mendadak. Terbukti dari beberapa komentar netizen, yang menanyakan mengapa masinis tidak melakukan pengereman,… pic.twitter.com/jFGJWenkVa
— Kereta Api Indonesia (@KAI121) July 20, 2023







