TANGSELXPRESS- Jumlah pemudik Lebaran tahun ini diprediksi mencapai 123,8 juta orang. Angka ini mengalami kenaikan 85,5 juta orang dibanding tahun 2022. Karena itu, pemudik disarankan menghindari tanggal puncak arus mudik dan arus balik demi menghindari kemacetan.
Pemerintah menambahkan satu hari libur cuti Lebaran yakni dimulai 19 April untuk mengurai kemacetan. Maka untuk arus mudik diperkirakan terjadi mulai 19 – 21 April 2023.
Berbeda dengan arus mudik yang terjadi selama satu fase, namun untuk arus balik terjadi pada dua fase. Awalnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan, puncak arus balik terjadi pada satu fase yakni di 25-26 April 2023.
Pemerintah menyiapkan sejumlah skema dalam menghadapi momen mudik Lebaran di tahun ini. Salah satu opsinya ialah dengan menerapkan ganjil genap.
“Ganjil genap akan kami pikirkan, nanti pada saat akhir atau satu minggu sebelum (Lebaran) akan kami putuskan, perlu ditetapkan atau tidak,” kata Menhub.
Jika jadi menerapkan sistem ini, maka bakal diterapkan pada H-7 sebelum Lebaran. Namun, opsi ini berpotensi muncul jika kendaraan yang melintas di sejumlah ruas tol mengalami kepadatan secara signifikan.
Selain sistem ganjil genap, Kemenhub juga mensyaratkan sejumlah hal bagi kendaraan logistik yang bakal melintas pada momen mudik Lebaran. Jika tidak ada pembatasan, maka bakal mengganggu kendaraan masyarakat yang berpergian untuk mudik.
“Kendaraan logistik juga kita batasi pada dasarnya hari-hari tertentu akan mengumumkan hari-hari apa saja yang tidak diperkenankan,” ujar Budi Karya.
Beberapa kendaraan yang boleh melintas jalanan diantaranya adalah angkutan bahan bakar minyak (BBM), angkutan barang bermuatan sembako, angkutan Pupuk dan hasilnya, angkutan barang bermuatan makanan dan minuman, serta angkutan bermuatan motor gratis.
“Memang ada dinamika berkaitan dengan angkutan barang minuman agar minta diperkenankan, tetapi pada saat saya melapor Presiden boleh, tetapi tidak boleh gunakan truk tiga sumbu,” pungkas Menhub.







