CERITA horor tentang teror makhluk gaib bisa terjadi dimana saja. Sekalipun itu di perkotaan. Kejadian ini dialami Rina ketika dia baru saja datang ke ibukota dari kampung halamannya di tanah Sunda. Gadis berkulit putih yang memang penakut itu tak menyangka kejadian mengerikan kembali menimpa dirinya.
Di kampung Rina, di sebuah desa berinisial B memang lekat dengan hal-hal mistis. Misal, anak gadis dilarang keluar rumah sendirian lewat dari magrib.
Konon kabarnya, ada anak mantri di sana yang nekat keluar pas magrib, selepas itu anak tersebut tak pernah kembali ke rumahnya. Ada pula aturan untuk para kaum perempuan di sana untuk membawa gunting jika setiap keluar rumah.
Yang unik adalah aturan untuk kaum pria di kampung tersebut. Untuk pria yang sudah menikah, diwajibkan menyeruput kopi pahit sebelum keluar rumah.
Rina sendiri tak mengerti alasan di balik aturan itu. Dia sempat bertanya kepada orangtuanya, tapi tak pernah mendapatkan jawaban yang jelas.
Nah, aturan yang harus dijalani Rina ketika ke Jakarta tak kalah unik dan aneh. Pertama, dia harus selalu mengenakan kalung yang berliontinkan bawang putih bakar yang sudah dikeringkan. Kata ibunya, kalung ini bisa membuatnya terhindar dari hal-hal gaib.
Aturan kedua, dia dilarang mandi lewat dari magrib. Ketiga, dia harus tidur malam dalam keadaan lampu menyala.
Rina tergolong anak yang patuh pada aturan-aturan tersebut. Sebab, dia seorang yang penakut. Rina sendiri pernah mengalami kejadian horor di kampungnya waktu itu. Dia diteror hantu sahabatnya sendiri. Dan butuh waktu berbulan-bulan untuk Rina lepas dari teror menakutkan itu.
Di Jakarta, Rina bekerja sebagai pelayan restoran di bilangan Jakarta Selatan. Di tempat itu, Rina mendapat tempat tinggal yang masih berada dalam satu gedung restoran.
Sampai hari ketiga bekerja, Rina tak merasakan kejadian yang aneh. Barulah di hari keempat, ada yang tak biasa dia rasakan di sore menjelang magrib.
Hari itu, Rina kebagian shift dua dimana dia harus bekerja mulai dari pukul 17.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB.
Pukul lima sore kurang 10 menit, Rina sudah siap turun ke resto untuk berganti shift pekerjaan dengan teman sekamarnya. Rina tinggal di lantai 3, sementara lantai 1 dan 2 digunakan untuk restoran.
Saat hendak menuju tangga, Rina melihat ada seorang wanita berbaju merah masuk ke toilet lantai 3. Rina sempat heran, karena toilet tersebut tak pernah digunakan lagi. Ayi, teman sekamarnya pernah cerita dan berpesan kepadanya untuk jangan pernah masuk ke toilet tersebut.
“Pokoknya jangan ya Rin. Toilet itu rusak dan baunya ga sedap banget. Aku juga belum pernah sih masuk ke situ, tapi aku dah diwanti-wanti pak bos kita,” cerita Ayi kala itu.
Lamunan Rina tentang pesan teman sekamarnya buyar kala terdengar suara berisik dari dalam toilet tersebut. Rina ingin mendekat, tapi dia ingat pesan Ayi.
Rina sendiri tak mampu mencegah wanita tadi untuk tidak masuk ke toilet tersebut. Dia berpikir, toilet di lantai 1 dan 2 mungkin sedang penuh. Sehingga perempuan itu terlihat terburu-buru masuk ke dalam toilet.
PIkiran aneh dan firasat tak enak yang dia rasakan berusaha diabaikan. Rina bergegas turun ke bawah dan siap bekerja. Hingga pada pukul 10 lewat 10 malam, Rina selesai bekerja.
Dengan wajah lesu dan langkah gontai, Rina menapaki satu per satu anak tangga. Hingga tiba di lantai tiga, keanehan kembali dia rasakan. Dari kejauhan, terdengar suara berisik dari dalam toilet terlarang itu.
Rina tak berani mendekat. Bergegas ia menuju pintu kamarnya. Sebelum masuk kamar, Rina sempat menoleh ke arah toilet. Dan tahukah apa yang dia lihat?
Perempuan berbaju merah keluar dari toilet, dengan wajah hangus terbakar menatap ke arahnya.
Sebulan setelah kejadian itu, barulah Rina mengetahui cerita sebenarnya tentang si perempuan berbaju merah itu. Konon ceritanya, dia adalah korban kebakaran di gedung itu sekitar 15 tahun lalu, sebelum akhirnya disulap menjadi restoran ternama tempat Rina bekerja.







