TANGSELXPRESS – Modus transaksi seksual secara online atau lebih trendnya dalam bisnis lendir disebut dengan open BO memang tak luput dari sorotan masyarakat. Pasalnya, dalam dunia bisnis lendir, cara seperti ini menjadi salah satu alternatif yang mudah untuk melakukan transaksi antara pelaku bisnis lendir dengan konsumennya.
Namun faktanya, cara-cara seperti ini pun rupanya sangat merugikan pihak ketiga bagi pelaku usaha perhotelan. Sebab, nama baik hotel tentunya akan diseret-seret untuk modus mencari mangsa para pelaku bisnis lendir, Selasa 3 Januari 2023.
Hal itu tentunya, nama hotel akan terseret oleh pelaku bisnis lendir lantaran tarif yang ditawarkan pelaku kepada konsumennya secara otomatis akan dibawa untuk menarik mangsa. Seperti peribahasa ‘Ada Rupa Ada Barang’.
Seperti dikutip dari Rakyat Priangan, transaksi seksual bisnis lendir open BO saat ini marak di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Bahkan, para pelaku bisnis lendir dan konsumen memanfaatkan aplikasi Michat untuk melakukan transaksi.
Namun, justru cara seperti ini diklaim oleh pihak Hotel Amaris di Tasikmalaya sangat dirugikan. Pasalnya, hotel hanya dijadikan modus untuk tempat bercocok tanam usai konsumen sudah melakukan transfer uang kepada pelaku bisnis lendir dan hasilnya konsumen tertipu lantaran pekerja seks komersial (PSK) yang dipesannya tak kunjung datang.
“Banyak kejadian ngaku ada di hotel pas di transfer, orangnya hilang. Saya himbau masyarakat jangan mudah percaya dengan transaksi prostitusi online. Banyak kejadian disini nunggu berjam-jam pas dicek ga ada,”terang Priyo Priyono, selaku Manager Hotel Amari kepada Rakyat Priangan.com seperti dikutip TANGSELXPRESS.
“Pada akhirnya hotel yang juga dirugikan dari kejadian tersebut,”ujarnya.
Seperti informasi yang berhasil dihimpun, Kota Tasikmalaya belakangan dengan tegas telah menolak keberadaan praktek prostitusi. Hal itu dibuktikan dengan adanya Perda Kota Tasikmalaya nomor 7 tahun 2014 tentang tata nilai kehidupan masyarakat religius di Kota Tasikmalaya.







