JAKARTA – Rencana ekspor listrik hijau Indonesia ke Singapura masih belum mencapai kesepakatan final. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proses kerja sama terus berjalan, namun negosiasi harga masih menjadi poin utama yang harus diselesaikan kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, dikutip Senin, 6 Juli.
Bahlil menjelaskan, kerja sama energi antara Indonesia dan Singapura tidak hanya mencakup ekspor listrik hijau. Kedua negara sebelumnya telah menandatangani tiga nota kesepahaman (MoU) yang menjadi dasar pengembangan kerja sama di sektor energi.
“Dari satu tahun lalu kan kita sudah melakukan penandatanganan MoU. Ada tiga MoU kita,” kata Bahlil.
Tiga MoU tersebut meliputi ekspor listrik hijau ke Singapura, pengembangan kawasan industri hijau, serta teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS).
“Satu adalah ekspor listrik ke Singapura, listrik hijau. Yang kedua adalah kawasan industri hijau. Yang ketiga adalah untuk storage CCS-nya,” ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, ketiga kerja sama tersebut merupakan satu paket yang telah disepakati sejak tahun lalu. Namun, implementasi ekspor listrik hijau masih memerlukan pembahasan lanjutan, terutama mengenai skema harga.
“Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan. Tapi kan kita masih negosiasi tentang harga,” katanya.
Bahlil menegaskan, penetapan harga ekspor listrik merupakan kewenangan pemerintah. Karena itu, Indonesia ingin memastikan kerja sama tersebut memberikan manfaat yang seimbang bagi kedua negara.
“Regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita pingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama harus saling menguntungkan,” ujarnya.
Meski optimistis kesepakatan dapat segera tercapai, Bahlil mengakui hingga kini negosiasi belum menghasilkan skema yang benar-benar menguntungkan kedua belah pihak.
“Saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu. Kita pingin semuanya harus punya manfaat yang win-win untuk kedua pihak,” kata Bahlil.
Saat ditanya apakah kerja sama tersebut sudah memenuhi prinsip saling menguntungkan, Bahlil menjawab singkat.
“Belum win-win. Saya merasa belum win,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan proyek ekspor listrik hijau Indonesia ke Singapura masih berada pada tahap negosiasi. Meski kerangka kerja sama telah disepakati melalui MoU, nilai ekonomi dan skema harga ekspor masih menjadi pembahasan utama sebelum proyek dapat direalisasikan sepenuhnya.







