TANGERANG SELATAN – Paparan Bisphenol A (BPA) yang berasal dari kemasan makanan dan minuman berbahan plastik yang digunakan berulang kali disebut dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang berhubungan dengan terjadinya pubertas dini pada anak.
Pakar obstetri dan ginekologi Prof Budi Wiweko atau Prof Iko menjelaskan bahwa pubertas dini dipengaruhi oleh perpaduan faktor genetik dan lingkungan. Meski faktor genetik tidak dapat diubah, faktor lingkungan masih dapat dikendalikan dengan menerapkan pola hidup sehat serta mengurangi paparan zat tertentu.
“Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon,” ujar Prof Iko dikutip dari YouTube Raditya Dika bertajuk “Akibat Puber Terlalu Cepat”, Minggu, 31 Mei.
Ia menerangkan bahwa sejumlah zat pengganggu hormon atau endocrine disruptors banyak ditemukan pada kemasan makanan, kemasan minuman, hingga berbagai polutan yang ada di lingkungan.
Terkait BPA, Prof Iko menjelaskan bahwa senyawa tersebut memiliki sifat yang menyerupai hormon estrogen.
“Dia bisa menyerupai hormon estrogen. Dia bisa bekerja di tempat kerjanya estrogen,” katanya.
Menurutnya, BPA berpotensi memengaruhi organ-organ yang menjadi target hormon estrogen, seperti rahim dan payudara. Karena itu, paparan BPA sejak usia dini diduga dapat berkaitan dengan percepatan perkembangan organ reproduksi.
“Sehingga kalau ada perempuan terekspos dengan Bisphenol pada usia dini, memungkinkan payudaranya tumbuh lebih cepat, rahimnya tumbuh lebih cepat, sehingga terjadilah pubertas dini tadi,” ucapnya.
Pubertas dini tidak hanya berdampak pada perubahan fisik yang terjadi lebih cepat dari biasanya. Anak yang mengalaminya juga dapat menghadapi tantangan psikologis karena perkembangan tubuhnya berbeda dengan teman-teman seusianya.
Selain itu, sejumlah ahli dari Endocrine Society mengaitkan pubertas dini dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, gangguan psikososial, hingga kanker payudara.
Prof Iko menambahkan bahwa sumber paparan BPA yang perlu diwaspadai masyarakat banyak berasal dari kemasan pangan dan minuman yang digunakan sehari-hari.
“BPA paling banyak terjadi di kemasan makanan, kemasan minuman,” ujarnya.
Salah satu contoh yang disebutkannya adalah galon air minum. Menurut Prof Iko, penggunaan kemasan tersebut perlu diperhatikan agar paparan BPA tetap berada dalam batas aman yang telah ditetapkan.
Ia mengingatkan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menetapkan batas migrasi BPA maksimum sebesar 0,6 bagian per juta pada kemasan pangan.
Selain berpotensi berkaitan dengan pubertas dini, Prof Iko juga menyoroti dampak zat pengganggu hormon terhadap kesehatan reproduksi. Menurutnya, paparan senyawa tertentu seperti Bisphenol dan Dioksin dapat berhubungan dengan berbagai gangguan reproduksi, termasuk kista endometriosis, gangguan pematangan sel telur, gangguan ovulasi, kesulitan memperoleh keturunan, miom, hingga kanker.
Khusus bagi ibu hamil, ia menekankan pentingnya menghindari paparan zat-zat tersebut, terutama pada trimester pertama kehamilan.
“Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu,” katanya.
Sementara itu, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai meningkatnya kasus pubertas dini juga perlu disikapi dengan meningkatkan pemahaman keluarga terhadap gejala yang muncul sejak awal.
“Pubertas dini makin meningkat karena biasanya mungkin orangtua tidak langsung tahu bahwa anaknya (mengalami) pubertas dini. Justru ini ditemukan setelah mereka konsul,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada pengurangan paparan zat tertentu, tetapi juga mencakup penerapan gaya hidup sehat, seperti menjaga pola tidur, mengatur pola makan, serta memperhatikan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak setiap hari.
Karena itu, orangtua dianjurkan lebih cermat dalam memilih kemasan makanan dan minuman yang digunakan anak, membaca informasi pada label produk, serta mempertimbangkan penggunaan kemasan yang telah dinyatakan bebas BPA. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi paparan faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi kesehatan hormon dan reproduksi anak sejak usia dini.







