MAGELANG – Ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara mengikuti Kirab Waisak Nasional 2570 BE/2026 yang berlangsung dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026).
Untuk mendukung kelancaran prosesi keagamaan tersebut, aparat kepolisian menerapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan yang dilalui peserta kirab. Pengaturan arus kendaraan dilakukan guna memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib tanpa mengganggu mobilitas masyarakat secara signifikan.
Sejak pagi, kawasan Candi Mendut telah dipadati peserta dan umat yang akan mengikuti salah satu rangkaian utama perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE. Panitia juga melakukan berbagai persiapan akhir, mulai dari penataan kendaraan hias hingga gunungan hasil bumi yang menjadi bagian dari prosesi kirab.
Kirab Waisak dijadwalkan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan menempuh jarak sekitar tiga kilometer. Rute perjalanan dimulai dari Candi Mendut, melintasi Jalan Mayor Kusen dan Jalan Balaputradewa, sebelum berakhir di kawasan Candi Borobudur.
Dalam kirab tersebut, umat Buddha mengarak dua simbol suci yang memiliki makna penting dalam perayaan Waisak, yakni Air Suci Waisak dan Api Dharma. Air Suci Waisak berasal dari Umbul Jumprit di Kabupaten Temanggung, sedangkan Api Dharma diambil dari Mrapen, Kabupaten Grobogan.
Sebelum diarak menuju Borobudur, kedua simbol sakral tersebut telah disemayamkan di Candi Mendut sebagai bagian dari rangkaian ritual menjelang puncak perayaan Waisak.
Bagi umat Buddha, prosesi kirab bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan memiliki makna spiritual yang mendalam. Kirab melambangkan perjalanan menuju pencerahan batin serta menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai cinta kasih, kebijaksanaan, toleransi, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah tiba di Candi Borobudur, umat Buddha akan melanjutkan rangkaian kegiatan keagamaan berupa puja bakti dan meditasi bersama. Puncak peringatan Tri Suci Waisak 2570 BE dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.44.44 WIB.
Momen tersebut menjadi saat paling sakral dalam perayaan Waisak karena memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan parinibbana atau wafatnya Sang Buddha.
Pada malam hari, rangkaian perayaan akan ditutup dengan pelepasan lampion di kawasan Candi Borobudur. Tradisi yang selalu dinantikan masyarakat ini melambangkan harapan, kedamaian, kebahagiaan, serta penerangan batin bagi seluruh makhluk.
Tingginya antusiasme umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara menjadikan perayaan Waisak di Magelang kembali menjadi salah satu agenda keagamaan dan budaya terbesar di Tanah Air. Selain memiliki nilai spiritual yang kuat, perayaan Waisak di kawasan Borobudur juga terus menarik perhatian wisatawan dan masyarakat internasional setiap tahunnya.







