JAKARTA – Sebanyak sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang sempat diculik militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza, Palestina, mengaku mengalami berbagai bentuk penyiksaan selama ditahan. Saat ini mereka telah dibebaskan dan tengah bersiap kembali ke Indonesia.
Pengakuan tersebut disampaikan Komite Pengarah GSF sekaligus Ketua Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia, Maimon Herawati, saat menemui para WNI di Istanbul.
Maimon mengatakan sejumlah relawan asal Indonesia mengalami luka fisik akibat kekerasan yang dilakukan militer Israel. Beberapa di antaranya mengalami memar di bagian dada, luka di wajah, hingga sesak napas.
“Juga ada yang diestrum, juga ada yang ditendang, dipukul sampai kemudian matanya memar-memar,” kata Maimon dalam keterangan video, dikutip Sabtu, 23 Mei dari http://beritasatu.com.
Dalam pertemuan itu, Maimon juga menanyakan langsung kondisi salah satu relawan Indonesia, Hendro Prasetyo.
“Hendro diapain?” tanya Maimon.
“Saya ditonjok, disetrum dua kali, ditendang dua kali,” jawab Hendro.
Menurut Maimon, berbagai bentuk kekerasan dialami para relawan kemanusiaan dari berbagai negara yang ikut dalam misi menuju Gaza. Ia menyebut kondisi yang dialami relawan Indonesia masih tergolong lebih ringan dibanding beberapa korban lainnya.
“Ini bisa disebut sebagai situasi yang ringan, karena di antara relawan, ada yang kemudian dibawa dengan stretcher, ada yang harus mendapatkan operasi, ada yang patah kaki dan tangan, dan saya dengar juga ada kasus-kasus yang lebih buruk lagi,” ujarnya.
Maimon menilai perlakuan tersebut menjadi gambaran tindakan yang dialami warga Palestina selama berada dalam tahanan Israel. Ia mengungkapkan saat ini terdapat lebih dari 9.000 warga Palestina yang mendekam di penjara Israel, termasuk anak-anak dan perempuan.
“Mereka mengalami penyiksaan luar biasa. Banyak yang meninggal karena penyiksaan. Semoga seluruh dunia terbuka matanya,” kata Maimon.
Saat ini, sembilan WNI yang telah dibebaskan masih menjalani proses administrasi, dokumentasi, dan pengambilan testimoni sebelum dipulangkan ke Indonesia.
Sebelumnya, militer Israel mencegat armada kemanusiaan yang menuju Gaza di perairan internasional dekat Siprus pada Senin, 18 Mei.
Lima WNI pertama yang ditahan adalah Andi Angga Prasadewa, Bambang Noroyono alias Abeng, Thoudy Badai, Andre Prasetyo, dan Heru Rahendro.
Belakangan, empat WNI lain yang sebelumnya berada di kapal juga ikut ditahan, yakni Asad Aras, Hendro Prasetyo, Herman Budianto, dan Ronggo Wirsanu.







