JAKARTA – Euforia dan ketegangan yang menyertai pertandingan Piala Dunia 2026 ternyata tidak hanya memengaruhi suasana hati para penggemar, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan jantung, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.
Mengutip Euronews Health, Sabtu, 13 Juni, para ahli jantung mengingatkan bahwa pertandingan sepak bola yang sarat emosi dapat memicu risiko kesehatan serius pada kelompok tertentu.
“Emosi yang kuat, baik positif maupun negatif, dapat menjadi faktor risiko pencetus kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung,” kata Paola Santalucia, ahli jantung dan anggota dewan European Heart Network.
Santalucia menjelaskan bahwa momen-momen menegangkan seperti kemenangan tim nasional, adu penalti, atau jalannya pertandingan yang penuh tekanan dapat memberikan dampak signifikan bagi penderita penyakit jantung. Risiko serupa juga meningkat pada individu dengan hipertensi, obesitas, maupun kebiasaan merokok.
Saat emosi memuncak, tubuh akan merespons dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, serta produksi hormon stres seperti kortisol. Dalam kondisi tertentu, detak jantung bahkan dapat mencapai 150 kali per menit, setara dengan aktivitas fisik intens seperti berlari cepat.
Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian terbaru yang memanfaatkan perangkat wearable, seperti jam pintar dan alat pemantau kesehatan lainnya. Studi itu mengamati perubahan detak jantung dan tingkat stres selama final Piala Jerman 2025, lalu membandingkannya dengan kondisi normal peserta selama 12 pekan.
“Dampak paling besar terjadi pada fans yang menonton langsung di stadion sambil minum bir,” kata Christian Deutscher, profesor ekonomi olahraga di Bielefeld University, Jerman, kepada Euronews Health. Ia menambahkan, cuaca panas turut memperberat respons tubuh terhadap tekanan emosional.
Meski demikian, peningkatan respons fisiologis tidak hanya dialami penonton di stadion. Mereka yang menyaksikan pertandingan dari rumah juga mengalami kenaikan detak jantung yang setara dengan aktivitas berjalan kaki, walaupun secara fisik tidak melakukan banyak gerakan.
Menurut Deutscher, momen yang paling memengaruhi kondisi tubuh justru sering kali bukan saat gol tercipta. Situasi penuh ketidakpastian seperti adu penalti, pemeriksaan VAR, atau bola yang membentur tiang gawang dapat memicu lonjakan respons tubuh yang lebih besar.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa sepak bola bukanlah penyebab utama masalah kesehatan tersebut. Faktor yang berperan adalah bagaimana tubuh merespons ledakan emosi yang muncul selama pertandingan berlangsung.
“Stimulasi adrenergik berada pada titik maksimal: tekanan darah sangat tinggi, detak jantung tinggi, adrenalin dan kortisol melonjak,” kata Dan Atar, profesor kardiologi di Oslo University Hospital, Norwegia dikutip Euronews.
Pada sebagian kecil kasus, kondisi tersebut dapat memicu pecahnya plak aterosklerotik, yaitu penumpukan lemak dan zat lain di dinding arteri. Jika plak pecah, risiko terjadinya serangan jantung akan meningkat secara signifikan.
Atar menegaskan bahwa menonton sepak bola tetap aman bagi mayoritas masyarakat. Reaksi berupa rasa tegang, gugup, atau bahagia saat menyaksikan pertandingan merupakan respons normal tubuh terhadap situasi emosional.
Namun, risiko dapat meningkat apabila emosi yang tinggi disertai konsumsi alkohol, paparan cuaca panas, kebiasaan merokok, penggunaan zat stimulan, atau adanya riwayat penyakit jantung.
Santalucia mengimbau para penggemar sepak bola, khususnya yang memiliki faktor risiko, untuk tetap menikmati pertandingan dengan bijak. Ia mengingatkan pentingnya mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala seperti nyeri dada, sesak napas, atau detak jantung yang sangat cepat dan tidak teratur.







