JAKARTA – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Soekarno-Hatta memperkuat pengawasan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta guna mengantisipasi potensi masuknya hantavirus melalui penerbangan internasional.
Kepala Kantor BBKK Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, mengatakan langkah kesiapsiagaan dilakukan dengan memperketat pemeriksaan terhadap pelaku perjalanan dari sejumlah negara yang telah melaporkan kasus hantavirus.
“Untuk hantavirus yang saat ini sedang ramai dibicarakan, kami di Soekarno-Hatta sudah melakukan kesiapsiagaan melalui pengisian deklarasi kesehatan. Dari situ kami bisa mengetahui risiko dari penerbangan maupun pelaku perjalanan,” ujar Naning, dikutip Senin, 11 Mei 2026.
Menurut dia, pemeriksaan dilakukan melalui pengisian deklarasi kesehatan, pemantauan suhu tubuh menggunakan thermal scanner, hingga observasi visual terhadap penumpang yang baru tiba di bandara.
Jika ditemukan penumpang dengan gejala yang mengarah pada hantavirus, petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan lanjutan oleh dokter di fasilitas kesehatan bandara.
“Kalau dari hasil pemeriksaan dinyatakan probable, maka akan kami rujuk ke rumah sakit pusat infeksi untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.
BBKK Soekarno-Hatta juga menyiapkan jalur evakuasi khusus penyakit menular untuk mencegah potensi penularan terhadap penumpang lain. Selain itu, tersedia ambulans khusus yang dilengkapi sistem dekontaminasi.
“Ambulans ini memiliki sistem dekontaminasi sehingga virus, bakteri, atau kuman dari pasien dapat dibersihkan dan tidak menyebar kepada orang lain,” jelasnya.
Naning menuturkan bahwa hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia. Kajian mengenai virus tersebut telah dilakukan sejak 2015. Berdasarkan data BBKK, tercatat 23 kasus hantavirus teridentifikasi sepanjang periode 2024 hingga 2026.
“Dari 2024 sampai 2026 sudah tercatat 23 orang teridentifikasi virus hanta,” ungkapnya.
Pengawasan tambahan kini diterapkan terhadap penerbangan langsung dari negara yang melaporkan kasus hantavirus, seperti Amerika Serikat, Argentina, Paraguay, dan Panama.
“Kami melakukan pengetatan pengawasan terhadap penerbangan dari negara-negara tersebut. Namun daftar itu bisa berubah sesuai perkembangan situasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pola penularan hantavirus berbeda dengan Covid-19. Jika Covid-19 menyebar antarmanusia, hantavirus di Indonesia lebih banyak ditularkan melalui kontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus.
“Kalau Covid penularannya dari manusia ke manusia. Sedangkan hantavirus lebih banyak melalui kontaminasi dari tikus,” katanya.
Naning juga mengingatkan masyarakat agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mewaspadai keberadaan tikus di lingkungan sekitar.
“Dari 51 jenis tikus, ada 24 jenis yang bisa menyebabkan penyakit,” ucapnya.
Untuk penanganan lanjutan, petugas akan melakukan asesmen terhadap riwayat perjalanan dan kontak erat penumpang yang diduga terpapar hantavirus. Jika masuk kategori probable case, pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Infeksi Sulianti Saroso menggunakan ambulans khusus penyakit menular.
Naning menambahkan masa observasi terhadap pasien maupun kontak erat dapat berlangsung hingga 42 hari karena hantavirus memiliki masa inkubasi yang cukup panjang.
“Hingga saat ini kami belum menemukan kasus hantavirus di pintu masuk Bandara Soekarno-Hatta,” pungkasnya.







