JAKARTA – Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan menilai kecelakaan kereta api di Bekasi Timur harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi besar terhadap sistem keselamatan transportasi publik di Indonesia.
Menurut Tigor, insiden yang melibatkan layanan Argo Bromo Anggrek dan KRL komuter pada akhir April 2026 menunjukkan masih adanya kelemahan dalam sistem keselamatan serta pengelolaan operasional perkeretaapian nasional.
“Masalah transportasi publik Indonesia masih jelek. Melihat kejadian kemarin, salah satunya tragedi kecelakaan kereta api di Bekasi itu,” ujar Tigor, dikutip dari http://beritasatu.com, Rabu, 6 Mei.
Ia menyoroti kondisi sarana dan prasarana perkeretaapian, terutama sistem persinyalan yang seharusnya menjadi komponen vital dalam menjamin keamanan perjalanan kereta.
Dalam peristiwa tersebut, KRL komuter diketahui sempat berhenti cukup lama di jalur. Namun, kereta lain tetap bisa masuk ke jalur yang sama hingga akhirnya memicu kecelakaan. Menurut Tigor, hal itu mengindikasikan adanya celah serius dalam sistem pengendalian lalu lintas kereta.
Selain masalah persinyalan, Tigor juga menyoroti keberadaan perlintasan sebidang yang hingga kini masih menjadi titik rawan terjadinya kecelakaan.
Ia menilai perlintasan liar yang masih banyak ditemukan menjadi salah satu pemicu insiden dan membutuhkan penanganan yang terkoordinasi antara pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, dan PT Kereta Api Indonesia.
Menurutnya, penanganan perlintasan sebidang tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah karena berkaitan dengan penataan lahan, pengawasan lapangan, hingga penerapan aturan yang tegas.
Tigor menegaskan tragedi di Bekasi Timur harus menjadi titik balik untuk memperkuat orientasi keselamatan dalam sistem transportasi publik nasional, terutama karena kereta api merupakan moda transportasi massal yang menyangkut keselamatan banyak orang.
Karena itu, ia mendorong audit menyeluruh terhadap sistem perkeretaapian guna mengidentifikasi akar persoalan dan mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
Tigor juga menilai insiden di perlintasan sebidang yang melibatkan kendaraan jalan raya menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan yang lebih mendasar dalam sistem transportasi umum di Indonesia.
“Saya melihat sistem pelayanan transportasi umum Indonesia itu tadi enggak bagus. Orientasinya belum untuk keselamatan,” tegasnya.







