TANGERANG SELATAN – Es batu kerap dianggap hanya sebagai pelengkap minuman yang aman dikonsumsi. Padahal, anggapan itu tidak selalu benar, terutama jika es dibuat dari air mentah atau air yang kebersihannya tidak terjamin. Risiko kesehatan dari es batu semacam ini perlu mendapat perhatian karena proses pembekuan tidak otomatis membunuh seluruh kuman penyebab penyakit.
Air yang telah terkontaminasi mikroorganisme tetap bisa menjadi sumber penularan berbagai penyakit berbasis air, seperti diare, kolera, disentri, tifoid, hingga polio.
Es batu dari air mentah bisa tetap membawa kuman
Banyak orang beranggapan bahwa air yang sudah membeku otomatis menjadi aman. Padahal, suhu dingin hanya memperlambat pertumbuhan sebagian mikroorganisme, bukan mematikan semuanya. Saat es mencair di dalam minuman, bakteri, virus, atau parasit yang masih bertahan dapat ikut masuk ke tubuh.
Bahaya es batu dari air mentah biasanya berasal dari kualitas air yang buruk, tempat penyimpanan yang kotor, tangan pembuat yang tidak higienis, hingga proses distribusi yang tidak terlindungi. Risiko ini semakin besar pada es balok yang dihancurkan di tempat terbuka atau diangkut tanpa perlindungan kebersihan.
Risiko kesehatan yang mengintai
Dampak paling umum dari konsumsi es batu yang tidak higienis adalah gangguan pada sistem pencernaan. Gejala yang bisa muncul antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, demam, hingga tubuh terasa lemas.
World Health Organization menegaskan bahwa pencegahan diare sangat berkaitan dengan akses air minum yang aman, sanitasi yang baik, kebiasaan mencuci tangan, dan kebersihan makanan. Artinya, es batu juga harus memenuhi standar kebersihan yang sama seperti bahan konsumsi lainnya.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan sistem imun lemah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, termasuk dehidrasi akibat diare.
Kenali tanda-tanda es batu yang patut diwaspadai
Es batu yang berbahaya tidak selalu bisa dikenali hanya dari tampilannya. Es yang terlihat bening belum tentu steril atau bebas kuman.
Namun, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai, seperti bau tidak sedap, adanya partikel kotoran, penyimpanan di lantai, dipegang langsung dengan tangan, atau dimasukkan ke minuman menggunakan alat yang tidak bersih.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga menyarankan untuk menghindari es batu jika tidak yakin es tersebut dibuat dari air yang aman. Ini menunjukkan bahwa keamanan es sangat bergantung pada kualitas air dan kebersihan proses pembuatannya.
Cara mengurangi risiko
Cara paling aman adalah menggunakan es batu yang dibuat dari air matang atau air minum kemasan yang layak konsumsi. Jika membuat sendiri di rumah, pastikan cetakan es bersih, tempat penyimpanan tertutup rapat, dan hindari menyentuh es langsung dengan tangan.
Gunakan penjepit atau sendok bersih untuk mengambil es agar tidak terjadi kontaminasi ulang.
Saat membeli minuman di luar, pilih penjual yang menjaga kebersihan area, alat, dan bahan. Hindari membeli minuman dengan es yang disimpan terbuka atau terlihat kurang higienis.
Jika sedang bepergian ke daerah dengan akses air bersih yang terbatas, pilihan paling aman adalah minuman kemasan tersegel tanpa tambahan es.
Es batu memang memberikan sensasi segar, tetapi keamanannya tetap harus menjadi perhatian utama. Memastikan sumber air bersih dan proses pembuatan yang higienis dapat menjadi langkah sederhana untuk mencegah risiko penyakit bagi diri sendiri dan keluarga.







