TANGERANG SELATAN – Varian baru Covid-19 BA.3.2 atau yang dijuluki “Cicada” kini menjadi perhatian dunia. Varian ini disebut memiliki sekitar 75 mutasi pada protein lonjakan, yang membuatnya lebih mampu menghindari sistem kekebalan tubuh. Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa tingkat keganasannya tidak lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya.
Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024 dan merupakan turunan dari Omicron. Profesor biologi evolusi dari University of Guelph, Ryan Gregory, menjulukinya sebagai “Cicada”. Ia menjelaskan, “Varian ini berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menyebar cepat, mirip seperti jangkrik.”
Ahli mikrobiologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, menyoroti banyaknya mutasi yang dimiliki varian ini. “Mutasi yang banyak membuat virus lebih sulit dikenali oleh sistem imun,” ujarnya, sehingga respons pertahanan tubuh menjadi lebih lambat.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Dana Mazo dari NYU Langone Health. Ia menilai, “Mutasi tersebut justru dapat mengurangi kemampuan virus untuk menempel pada sel manusia,” sehingga daya infeksinya tidak meningkat secara signifikan.
Sementara itu, World Health Organization dan Centers for Disease Control and Prevention mengklasifikasikan varian ini sebagai “variant under monitoring”. Artinya, varian tersebut masih dalam pemantauan dan dinilai memiliki risiko relatif rendah terhadap kesehatan masyarakat.
Penyebaran varian Cicada kini telah meluas. Data menunjukkan varian ini sudah terdeteksi di puluhan negara, termasuk di Amerika Serikat dan Eropa. Bahkan di Eropa, varian ini dilaporkan menyumbang sekitar 30 persen kasus infeksi Covid-19.
Meski demikian, para ahli memastikan gejala yang ditimbulkan tidak berbeda jauh dari varian sebelumnya. William Schaffner dari Vanderbilt University Medical Center menyebut, “Gejala yang muncul relatif sama seperti varian sebelumnya.”
Gejala umum yang dilaporkan antara lain demam, batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, kelelahan, hingga gangguan pencernaan. Robert H Hopkins Jr menambahkan, “Sakit tenggorokan masih menjadi gejala yang paling sering dilaporkan.”
Di tengah kemunculan varian ini, para ahli tetap menekankan pentingnya vaksinasi. Mereka menyebut bahwa meskipun mutasi dapat memengaruhi kemampuan vaksin dalam mencegah infeksi, perlindungan terhadap gejala berat dan komplikasi serius tetap tinggi.
Oleh karena itu, otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Upaya seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak dinilai masih menjadi langkah efektif untuk menekan penyebaran virus.







