MAROS – Tim Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar menemukan sejumlah barang yang diduga milik korban di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Temuan tersebut diperoleh hingga hari ketiga pelaksanaan operasi SAR di kawasan Gunung Bulusaraung.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengatakan temuan berasal dari hasil penyisiran intensif tim darat di medan ekstrem.
“Hingga hari ketiga operasi, tim SAR gabungan berhasil menemukan sejumlah barang milik korban serta bagian dari pesawat di area pencarian Gunung Bulusaraung,” kata Arif di Makassar, Selasa (20/1).
Ia menjelaskan, pencarian dilakukan di jalur terjal antara puncak gunung dan Pos 9 jalur pendakian. Kondisi medan yang curam dan berisiko tinggi menuntut tim bekerja dengan tingkat kehati-hatian maksimal.
Barang-barang yang ditemukan meliputi dokumen pribadi, dompet, buku catatan, serta perangkat elektronik seperti jam tangan pintar. Selain itu, tim juga menemukan beberapa bagian pesawat, antara lain pelampung dan fire signal, di area yang diduga berada di sekitar bagian depan pesawat.
Arif menyebutkan seluruh temuan telah diamankan, didata, dan ditandai titik koordinatnya sesuai prosedur operasi standar. Temuan ini menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian serta menentukan langkah lanjutan dalam proses evakuasi.
“Medan di lokasi sangat curam dan berisiko. Tim harus menggunakan teknik khusus seperti rappelling dan pembukaan jalur, sehingga proses pencarian membutuhkan waktu, ketelitian, dan koordinasi yang kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengapresiasi kerja keras seluruh unsur SAR gabungan yang tetap melaksanakan operasi di tengah kondisi alam yang ekstrem.
Menurut Syafii, penemuan barang milik korban serta bagian pesawat menunjukkan tim SAR telah berada dekat dengan titik-titik krusial pencarian.
“Ini merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan kolaborasi seluruh unsur di lapangan,” katanya.
Syafii menambahkan, tantangan utama operasi SAR masih berasal dari faktor cuaca dan kondisi alam, seperti kabut tebal, medan terjal, dan perubahan cuaca yang cepat, yang kerap menghambat pergerakan tim darat maupun udara.
Meski demikian, ia memastikan operasi pencarian dan evakuasi akan terus dilanjutkan secara profesional dan terukur, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel hingga seluruh tahapan operasi dapat diselesaikan.







